Pages

Minggu, 05 Juli 2009

Unit 7 : Penatalaksanaan Masa Nifas

Panduan Pendidikan Perinatal

Unit 7 : Perawatan Masa Nifas

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan Modul Perawatan Masa Nifas ini, mahasiswa akan memiliki kemampuan untuk :

  1. Menyebutkan batasan puerperium.
  2. Menyebutkan perubahan fisik selama puerperium.
  3. Melakukan penatalaksanaan puerperium.
  4. Melakukan penilaian 6 minggu pasca persalinant.
  5. Menegakkan diagnose dan penatalaksanaan febris puerperalis.
  6. Mengenal gangguan psikiatrik pada masa puerperium.
  7. Menegakkan diagnosa dan penatalakasanaan HPPsekunder

7.1 APA YANG DIMAKSUD DENGAN PUERPERIUM atau NIFAS?

Masa nifas (puerperium) adalah periode persalinan sejak akhir kala III sampai pulihnya organ reproduksi kedalam keadaan normal sebelum kehamilan

7.2 BERAPA LAMA MASA NIFAS BERLANGSUNG?

Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. Namun sejumlah organ akan kembali ke keadaan sebelum kehamilan beberapa bulan setelah masa nifas berakhir (misalnya ureter) atau bahkan tidak kembali ke keadaan yang normal (perineum).

MASA NIFAS DIAWALI SETELAH PLASENTA LAHIR SAMPAI 6 MINGGU KEMUDIAN

7.3 MENGAPA MASA NIFAS INI MERUPAKAN HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN?

  • Ini merupakan masa parturien untuk menghilangkan segenap kelelahan dan kelesuan fisik dan mental yang sudah terjadi akibat kehamilan dan persalinan
  • Pada primipara masa ini merupakan periode adaptasi seorang wanita untuk menjadi orang tua yang akan disibukkan dengan kehidupan mengasuh anak.
  • Masa ini perlu dimanfaatkan untuk belajar memberikan ASI.
  • Masa ini merupakan kesempatan bagi pasien untuk berpikir tentang metode KB yang akan digunakan.

7.4 PERUBAHAN FISIK APA YANG TERJADI SELAMA MASA NIFAS?

Hampir semua organ mengalami perubahan pada masa nifas. Rentang penyesuaian dapat terjadi mulai dari yang ringan sampai berat. Beberapa perubahan penting yang harus diketahui :

1. KEADAAN UMUM:

  1. Beberapa parturien menggigil segera setelah melahirkan namun suhu tubuh tidak berubah.
  2. Frekuensi nadi melambat, normal atau menjadi cepat akan tetapi tidak diatas 100 dpm
  3. Tekanan darah bervariasi, dalam keadaan normal tidak melebihi 140 / 90 mmHg
  4. Berat badan menurun rata-rata 8 kg pasca persalinan, penurunan berat badan lebih lanjut merupakan akibat involusi uterus, diuresis dan tergantung apakah memberikan ASI atau tidak.

2. KULIT:

  1. Peningkaan pigmentasi didaerah wajah, dinding abdomen dan vulva mereda namun biasanya areola mammae menjadi semakin berwarna gelap dibandingkan sebelum kehamilan.
  2. Setelah terjadi diuresis, edema mulai menghilang dalam beberapa hari.
  3. Beberapa hari setelah melahirkan terjadi pengeluaran keringat yang berlebihan.

3. DINDING PERUT:

  1. Dinding abdomen menjadi lembek (kendor dan keriput) dan terjadi divarikasi otot abdomen.
  2. Striae gravidarum, bila ada maka gambaran ini tidak lenyap akan tetapi berubah menjadi merah.

4. TRAKTUS GASTRO INTESTINAL

  1. Sering merasa haus.
  2. Nafsu makan bervariasi dari anoreksia sampai ‘rakus’
  3. Perut sering kembung dan buang angin (flatus).
  4. Beberapa pasien mengeluh terjadinya sembelit akibat penurunan tonus usus selama hamil, berkurangnya asupan makanan selama persalinan dan pemberian enema saat persalinan. Konstipasi ini sering terjadi pada pasien episiotomi atau wasir yang hebat.

5. TRAKTUS URINARIUS:

  1. Sering terjadi retensio urine yang merupakan akibat penurunan tonus kandung kemih selama kehamilan dan edema urethra akibat persalinan. Disuria dan kesulitan pasase urine menyebabkan retensio urine total atau terjadi rentensio dengan inkontinensia. Kandung kemih penuh mengganggu kontraksi uterus.
  2. Diuresis terjadi pada hari kedua dan ketiga masa nifas. Pada penderita edema, diuresis terjadi segera setelah persalinan.
  3. Inkontinesia (kebocoran urine) sering terjadi saat pasien tertawa atau batuk. Inkontinensia dapat terjadi sejak saat kehamilan dan berlanjut sampai masa nifas. Inkontinensia urine dapat menjadi semakin berat namun biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul.

*** Latihan dasar panggul ( Kegel Exercise ). Otot-otot yang dilatih adalah otot yang bertugas untuk menghentikan aliran urine. Otot-otot ini dilatih dengan cara mengencangkannya sekuat mungkin seolah-olah sedang menghentikan aliran urine. Latihan dilakukan 4 kali sehari, masing-masing selama 10 menit.

***Fungsi kandung kemih dapat terganggu sementara pada pasien dengan analgesia epidural. Dapat terjadi retensio urine total atau terjadi retensi dengan ‘overflow’. .

6. DARAH:

  1. Nilai kadar Hb stabil dalam jangka waktu 4 hari.
  2. Kadar trombosit meningkat dan trombosit menjadi lebih bergerombol dari hari ke 4 sampai 10 pasca persalinan. Keadaan ini dan gangguan pembekuan darah lain mempermudah terjadinya tromboemboli pada masa nifas.

7. PAYUDARA:

Terjadi perubahan menonjol saat nifas adalah akibat proses menghasilkan ASI.

8. TRAKTUS GENITALIS:

Selama masa nifas terjadi perubahan traktus genitalis yang jelas:

  1. VULVA: vulva membengkak dan terbendung pasca persalinan, namun keadaan ini dengan cepat akan hilang. Robekan jalan lahir dan luka episiotomi biasanya mudah sembuh
  2. VAGINA: sesaat setelah persalinan, vagina dalam keadaan lebar, dindingnya lebih rata, edematous dan terbendung. Ukuran dan ruggae vagina akan kembali normal dalam jangka waktu 3 minggu. Dinding vagina lebih kendor dibandingkan sebelumnya dan kadang-kadang mengalami prolapsus vaginae sehingga terjadi sistokel atau rektokel. Robekan kecil pada vagina sembuh dalam jangka waktu 7 – 10 hari.
  3. SERVIK: Setelah persalinan pervaginam pertama, ostium uteri eksternum primipara memperlihatkan gambaran terbelah. Beberapa hari pertama pasca persalinan, servik praktis masih dalam keadaan terbuka dan dalam jangka waktu 7 hari ostium servik seharusnya sudah menutup kembali.
  4. UTERUS: Perubahan terpenting adalah involusi uterus. Segera setelah persalinan, ukuran uterus adalah sebesar kehamilan 20 minggu. Pada akhir minggu pertama ukuran uterus kira-kira setara dengan kehamilan 12 – 14 minggu dan setelah 14 hari, uterus tidak lagi dapat diraba. Berkurangnya ukuran uterus dsebabkan oleh kontraksi dan retraksi otot uterus. Desidua mengalami nekrosis akibat iskemia dan terkelupas dalam bentuk lochia. Lochia rubra (merah) berlangsung sekitar 24 hari dan kemudian menjadi lochia alba (putih). Lochia yang berbau busuk menunjukkan adanya abnormalitas.

PENATALAKSANAAN MASA NIFAS

Penatalaksanaan masa nifas terbagi menjadi 3 stadium :

  1. Penatalaksanaan jam-jam pertama pasca lahirnya plasenta ( persalinan kala IV)
  2. Penatalaksanaan masa nifas selanjutnya
  3. Penatalaksanaan kunjungan 6 minggu pasca persalinan

7.5 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN JAM PERTAMA PASCA LAHIRNYA PLASENTA?

2 tujuan utama perawatan pada jam pertama (kala IV) :

  1. Memastikan keadaan umum pasien dalam keadaan baik
  2. Mencegah terjadinya HPP

Untuk itu harus dilakukan hal-hal berikut :

  1. Lakukan observasi parturien secara rutin
  2. Penuhi kebutuhan parturien
  3. Lanjutkan kerja sama dengan meminta parturien untuk melakan masase fundus uteri dan segera melapor bila terjadi perdarahan.

Penatalaksanaan kala IV harus dilakukan dengan benar sebab pada masa-mas ini sering terjadi kejadian HPP.

7.6 OBSERVASI RUTIN APA YANG HARUS DILAKUKAN PADA KALA IV?

  1. Segera setelah plasenta lahir, saudara harus :
    1. Menilai kontraksi uterus.
    2. Menilai apakah perdarahan yang terjadi dalam batas normal.
    3. Memeriksa dan mencatat nadi,tekanan darah dan suhu tubuh.
  2. Selama kala IV , bila hasil penilaian yang tersebut pada no 1 semua baik, maka saudara harus :
    1. Melanjutkan penilaian kontraksi uterus dan perdarahan yang terjadi. .
    2. Ulangi pemeriksaan Tekanan Darah, Nadi dan Suhu 1 jam kemudian.
    3. Bila kondisi berubah lakukan pemeriksaan lebih sering.

7.7 BAGAIMANA ANDA MEMENUHI KEBUTUHAN PARTURIEN PADA KALA IV?

Setelah plasenta lahir, yang dibutuhkan pasien mungkin adalah :

  1. Dibersihkan/dimandikan
  2. Minum atau makan
  3. Berdekatan dengan bayinya
  4. Istirahat

7.8 BAGAIMANA PARTURIEN DAPAT MEMBANTU MENCEGAH TERJADINYA HPP PADA KALA IV?

  1. Kepada pasien diperlihatkan bagaimana cara untuk melakukan observasi:
    1. Jarak antara fundus uteri dengan umbilikus.
    2. Kontraksi uterus
    3. Jumlah perdarahan.
  2. Diperlihatkan cara melakukan masase uterus.
  3. Diberitahukan apa yang harus dilakukan bila fundus uteri naik atau perdarahan per vaginam banyak :
    1. Segera menyampaikan hal tersebut pada bidan/paramedis.
    2. Pada saat bersamaan, lakukan masase fundus uteri.

PARTURIEN MEMEGANG PERANAN PENTING DALAM PENCEGAHAN HPP

7.9 KAPAN PASIEN PASCA PERSALINAN BOLEH MENINGGALKAN RUMAH SAKIT?

Tergantung pada :

  1. Bagaimana perawatan prenatal dan riwayat persalinannya
  2. Kondisi rumah bersalin atau rumah sakit

7.10 KEHAMILAN DAN PERSALINAN?

Pasien dengan kehamilan normal dan riwayat persalinan normal sudah dapat dijinkan pulang sekitar 6 jam pasca persalinan dengan syarat :

  1. Observasi ibu dan anak sejak persalinan semuanya berlangsung normal.
  2. Pada pemeriksaan keadaan ibu dan anak dalam keadaan baik dan neonatus dapat menghisap ASI dengan baik.
  3. Pasien dapat dengan mudah berkunjung ke RS terdekat pada hari pertama, pada hari ketiga dan pada hari ke 5 pasca persalinan atau dengan kunjungan rumah. Pada primipara, kunjungan harus dilakukan minimal pada hari ke 7 untuk melihat kemampuan memberikan ASI.

Pasien hanya boleh dipulangkan bila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan kelainan dalam hal :

  1. Pemeriksaan Umum : Nadi, Suhu, Tekanan Darah dan kadar Hb
  2. Kontraksi uterus
  3. Proses penyembuhan robekan jalan lahir atau luka episiotomi.

7.11 KAPAN PASIEN BOLEH PULANG PASCA KEHAMILAN DAN ATAU PERSALINAN DENGAN KOMPLIKASI?

Tergantung pada jenis komplikasi dan cara persalinan operatif yang dilakukan.Sebagai contoh :

  1. Pasien pre-eklampsia harus dirawat di RS sampai tekanan darah kembali normal atau sekurang-kurangnya cenderung kembali ke normal.
  2. Pasien dengan cara persalinan sectio caesar sekurang-kurangmya dirawat di rumah sakit selama 3 hari.
  3. Pasien HPP dirawat di rumah sakit sekurang-kurangnya selama 24 jam pasca persalinan sampai kontraksi uterus berlangsung dengan baik dan tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.

7.12 APA YANG DIMAKSUD DENGAN KONDISI RUMAH BERSALIN ATAU RUMAH SAKIT YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM MENENTUKAN SAAT PASIEN DIPULANGKAN?

  1. Sejumlah rumah bersalin memiliki jumlah tempat perawatan yang amat terbatas sehingga tidak mungkin melakukan perawatan pasca persalinan lebih dari 6 jam, dengan demikian maka parturien yang bermasalah dan tak mungkin dirawat kurang dari 6 jam harus dirujuk ke RS.
  2. Sejumlah RS tidak mampu melakukan pengamatan jarak jauh terhadap pasiennya sehingga demi keamanan maka waktu perawatan di RS memerlukan waktu yang lebih panjang.
  3. Pasien tanpa perawatan antenatal dan memerlukan jenis pelacakan penyakit tertentu harus berada di RS sampai hasil pelacakan tersebut diketahui ( misalnya serologi syphilis atau golongan darah Rhesus).

7.13 PERAWATAN PASCA PERSALINAN YANG HARUS DIBERIKAN PADA MASA PUERPERIUM SETELAH PASIEN PULANG DARI RB ATAU RS?

Observasi yang harus dilakukan pada IBU :

  1. Penilaian keadaan umum.
  2. Pemeriksaan nadi, tekanan darah dan suhu.
  3. Tinggi fundus uteri dan kontraksi uterus.
  4. Jumlah dan sifat lochia.
  5. Penyembuhan luka jalan lahir / episiotomi..
  6. Tanyakan mengenai BAK dan BAB.
  7. Ukur kadar Hemoglobin.
  8. Periksa keadaan puting susu dan bagaimana riwayat pemberian ASI.

Observasi yang harus dilakukan pada NEONATUS :

  1. Periksa keadaan umum anak.
  2. Apakah mengalami ikterus .
  3. Keadaan talipusat adakah tanda-tanda infeksi
  4. Pemeriksaan mata – conjunctivitis .
  5. Bagaimana keadaan urine dan feces.
  6. Apakah neonatus menyusu dengan baik

SALAH SATU TUJUAN PENTING PERAWATAN NIFAS ADALAH KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI

7.14 APA YANG HARUS DILAKUKAN AGAR PEMBERIAN ASI BERHASIL?

Dengan memberi penyuluhan dan motivasi sejak kehamilan, persalinan dan berlanjut sampai pasca persalinan.

Dukungan dan semangat perklu diberikan pada minnggu pertama pasca persalinan. Materi penyuluhan hendaknya memasukkan materi tentang arti penting pemberian ASI untuk menurunkan angka kematian neonatus pada golongan sosial ekonomi rendah.

7.15 MASALAH APA YANG HARUS DIKEMUKAKAN PADA PENYULUHAN MASA NIFAS?

  • Perawatan personal dan bayi.
  • Lochia berlebihan dan berbau harus segera dilaporkan pada bidan
  • "puerperal blues".
  • Keluarga Berencana.
  • Perencanaan kehamilan dan persalinan untuk kehamilan berikutnya.
  • Saat sanggama yang dapat dimulai 3 – 4 minggu pasca persalinan.

PENYULUHAN PASIEN MERUPAKAN KEGIATAN PENTING YANG SERING DILUPAKAN PADA PERAWATAN NIFAS

7.16 KAPAN PASIEN DIMINTA DATANG UNTUK KUNJUNGAN ULANG PASCA PERAWATAN POSTNATAL SUDAH TERLAKSANA LENGKAP?

Kunjungan pasca persalinan dilakukan 6 minggu kemudian. Pada saat itu diharapkan hampir semua perubahan organ yang terjadi akibat kehamilan sudah pulih kembali.

KUNJUNGAN 6 MINGGU PASCA PERSALINAN

7.17 PASIEN APA YANG HARUS MELAKUKAN KUNJUNGAN ULANG 6 MINGGU PASCA PERSALINAN?

Pasien yang dipulangkan dengan hipertensi, ruptura perine totalis .pasca persalinan operatif per vaginam.

7.18 APA TUJUNAN KUNJUNGAN 6 MINGGU PASCA PERSALINAN?

Penting untuk diketahui apakah :

  1. Pasien dalam keadaan sehat dan sudah kembali ke aktivitas normal?
  2. Keadaan janin tumbuh dan erkembang dengan baik?
  3. Pemberian ASI dilakukan dengan baik
  4. Pasien sudah menentukan jenis kontrasepsi
  5. Ada pertanyaan-pertanyaan lain dari pasien mengenai dirinya sendiri, bayi dan atau keluarganya.

7.19 BAGAIMANA PELAKSANAAN KUNJUNGAN 6 MINGGU PASCA PERSALINAN?

  1. Kepada pasien ditanyakan mengenai apa yang terjadi pada pasien dan bayinya sejak keluar dari rumah sakit.
  2. Lakukan pemeriksaan fisik umum (anemia, berat badan, tampilan umum) , tekanan darah, palpasi abdomen dan dilakukan pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan vulva dan vagina (penyembuhan luka jalan lahir), mengambil sediaan pap smear pada mereka yang pemeriksaan sebelumnya menunjukan kelainan, pemeriksaan bimanual untuk menentukan besar uterus. Lakukan pula pemeriksaan protein dan glukosa urine.
  3. Berikan perhatian khusus untuk hal-hal tertentu sehubungan dengan riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya.

IBU DAN ANAK HANYA BOLEH DIPULANGKAN BILA KEDUANYA DALAM KEADAAN BAIK DAN SEHAT

FEBRIS PUERPERALIS

7.20 APA YANG DIMAKSUD DENGAN FEBRIS PUERPERALIS?

Pasien nifas yang mengalami demam ( suhu oral 380C atau lebih )

7.21 MENGAPA FEBRIS PUERPERALIS HARUS DIPERHATIKAN?

  1. Oleh karena hal ini dapat disebabkan oleh komplikasi persalinan atau nifas yang tertentu.
  2. Febris puerperalis akan mengganggu pemberian ASI.
  3. Bila tidak memperoleh penatalaksanaan yang baik, pasien akan dapat mengalami puerperial sepsis dan meningggal.

FEBRIS PUERPERALIS DAPAT DISEBABKAN OLEH KOMPLIKASI KEHAMILAN ATAU PERSALINAN YANG TIDAK BOLEH DIABAIKAN

7.22 APA PENYEBAB FEBRIS PERPERALIS?

  1. Infeksi traktus genitalis
  2. Infeksi traktus urinarius
  3. Mastitis atau abses payudara
  4. Tromboplebitis
  5. Infeksi saluran nafas
  6. Infeksi lain.

7.23 APA PENYEBAB INFEKSI GENITALIA?

Infeksi traktus genitalis disebabkan infeksi bakteri pada ‘plasental site’ , laserasi servik atau jalan lahir lain dan perineum..

*** Infeksi genitalia umumnya disebab oleh group A atau group B Streptococcus, Staphylococcus aureus atau bakteri anaerobic .

7.24 BAGAIMANA MENEGAKKAN DIAGNOSA INFEKSI TRAKTUS GENITALIS?

  1. 1. ANAMNESA:
    1. Persalinan preterm, KPD, partus lama, persalinan operatif pervaginam, sisa plasenta.
    2. Pasien merasa sakit atau tidak enak badan
    3. Nyeri abdomen bagian bawah.
  2. 2. PEMERIKSAAN :
    1. Demam yang terjadi dalam waktu 24 jam pasca persalinan. Dapat disertai dengan menggigil..
    2. Takikardia.
    3. Perut bagian bawah tegang.
    4. Lochia berlebihan.
    5. Infeksi luka jalan lahir atau luka episiotomi.

*** Bila memungkinkan , lakukan hapusan endoservikal untuk kemudian dikerjakan pemeriksaan mikrokope, biakan dan pemeriksaan sensitivitas .

7.25 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN INFEKSI TRAKTUS GENITALIS?

  1. PENCEGAHAN :
    1. Persalinan dilaksanakan secara asepsis.
    2. Batasi pemeriksaan vaginal.
    3. Hindarkan trauma persalinan sedapat mungkin
    4. Isolasi pasien infeksi.
  2. TERAPI:
    1. Rawat di Rumah Sakit.
    2. Turunkan panas dengan kompres.
    3. Analgesik antipiretik, misal. parasetamol (Panadol) 1 g (2 tablet dewasa) peroral tiap 6 jam.
    4. Berikan cairan yang cukup (pasang infus) dan tentukan produksi urine.
    5. Antibiotika spektrum lebar, misal ciprofloxacine dan metronidazole (Flagyl). Bila pasien direncanakan akan dirujuk, lakukan pemberian antibiotika sebelum dirujuk. .
    6. Ukur kadar haemoglobin ; Tranfusi darah bila kadar Hb dibawah 8g% .
    7. Pada luka yang terinfeksi , bersihkan luka dan angkat semua jahitan.
    8. Drainase abses
    9. Pada subinvolusio uteri, berikan uterotonika dan lakukan pengosongan uterus bila hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya sisa konsepsi.

*** Dalam waktu 24 jam setelah pemberian terapi yang memadai keadaan pasien diharapkan membaik dan suhu tubuh menurun. Bila akan melakukan pengosongan uterus maka tindakan kuretase dikerjakan secepat-cepatnya 12 jam pasca terapi diatas..

7.26 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN PASIEN DENGAN LOCHIA BERLEBIHAN DAN BERBAU?

  1. Bila pasien menderita demam dia harus dirawat di RS dan diobati sesuai dengan poin 8.25 .
  2. Bila terjadi subinvolusio uteri , atau ostium uteri masih terbuka dan terdapat sisa plasenta maka harus dilakukan kuretase. .
  3. Bila suhu dan involusi normal, berikan ciprofloxacin dan metronidaxole dan pasien dirawat secara poliklinis.

LOCHIA BERLEBIHAN DAN BERBAU ADALAH TANDA INFEKSI TRAKTUS GENITALIS

7.27 BAGAIMANA DIAGNOSA INFEKSI TRAKTUS URINARIUS DITEGAKKAN?

  1. ANAMNESA:
    1. Riwayat kateterisasi saat persalinan atau pada masa nifas
    2. Nyeri abdomen bagian bawah dan atau nyeri punggung sekitar daerah ginjal
    3. Gangguan miksi (nyeri saat dan sering buang air kecil)
  2. PEMERIKSAAN :
    1. Demam dan menggigil
    2. Tachycardia.
    3. Nyeri atau ketegangan didaerah suprapubik. Rasa nyeri ketuk (perkusi) pada daerah sekitar ginjal.
  3. PEMERIKSAAN LABORATORIUM/PEMERIKSAAN KHUSUS:
    1. Pemeriksaan mikroskopik pada air seni (mid stream) menunjukkan adanya leukosit dan bakteri yang banyak.
    2. Lakukan pemeriksaan biakan dan sensitivitas pada sediaan urine.

*** Demam dan nyeri ketuk (perkusi) didaerah renal menunjukkan adanya infeksi traktus urinarius bagian atas dan kemungkinan diagnosa adalah pielonefritis akuta.

7.28 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN INFEKSI TRAKTUS URINARIUS?

1. PENCEGAHAN:

Hindarkan tindakan kateterisasi bila tidak sangat perlu dan lakukan kateterisasi dengan cara yang asepsis. .

2. TERAPI:

    1. Rawat di RS.
    2. Kompres untuk menurunkan suhu tubuh.
    3. Analgesik dan antipiretik , misal paracetamol (Panadol) 1 g peroral setiap 6 jam.
    4. Berikan cairan yang cukup.
    5. Ampisilin Intravena 2 g dan lanjutkan dengan1 g tiap 6 jam.

*** Alternatif pemberian ampicilline ; kombinasi ampicillin and clavulanic acid (Augmentin) atau Cefotaxime

7.29 APA YANG DIMAKSUD DENGAN TROMBOPLEBITIS SUPERFISIAL?

Adalah radang non infeksi dan trombosis vena superfisial tungkai bawah atau lengan bagian depan (lokasi pemberian infus).

Tromboplebitis sering terjadi pada masa nifas terutama bila terdapat varises.

7.30 BAGAIMANA MENEGAKKAN DIAGNOSA TROMBOPLEBITIS SUPERFISIALIS VENA TUNGKAI?

  1. ANAMNESA:
    1. Pembengkakan disertai nyeri pada tungkai atau lengan bagian depan.
    2. Terdapat varises.
  2. PEMERIKSAAN:
    1. Demam .
    2. Takikardia.
    3. Ditemukan pembengkakan berwarna merah dan tegang didaerah tungkai atau lengan.

7.31 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN TROMBOPLEBITIS SUPERFISIALIS?

  1. Berikan analgesik aspirin 300 mg setiap 6 jam..
  2. Pemasangan bebat tekan (‘elastic bandage’).
  3. Pasien diminta untuk sering berjalan.

*** Tidak ada indikasi pemberian terapi antikoagulan kecuali bila terjadi tromboplebitis profunda. .

7.32 BAGAIMANA MENEGAKKAN DIAGNOSA INFEKSI SALURAN NAFAS BAGIAN BAWAH?

Diagnosa infeksi saluran nafas bagian bawah (bronchitis, pneumonia) ditegakkan atas dasar :

  1. ANAMNESA:
    1. Pasca pemberian anaestesia umum dengan intubasi endotracheal.
    2. Batuk yang produktif.
    3. Nyeri dada.
    4. Baru menderita ISPA.
  2. PEMERIKSAAN:
    1. Demam .
    2. Pernafasan cpat
    3. Takikardia
  3. PEMERIKSAAN KHUSUS:
    1. Thorax photo untuk diagnosa pneumonia.

*** Pemeriksaan thorax dapat menemukan kelainan perkusi atau auskultasi yang menunjukkan adanya pneumonia atau bronchitis. .

7.33 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN BAWAH?

  1. PENCEGAHAN:
    1. Pemberian anaesthesia / intubasi dilakukan secara baik
    2. Perawatan yang baik saat melakukan induksi anaesthesi dan saat pemulihan anaesthesi.
    3. Pasien dianjurkan batuk dan bernafas dalam setelah anesthesia umum untuk mencegah kolaps lobus inferior.
  2. TERAPI:
    1. Dirawat di Rumah Sakit meskipun infeksi tidak berat.
    2. Oksigen .
    3. Ampicillin peroral atau intravena tergantung beratnya penyakit
    4. Analgesia, misal. parasetamol (Panadol) 1 g tiap 6 jam.
    5. Physiotherapy.

3. PEMERIKSAAN KHUSUS: Pemeriksaan mikroskopik sputum, biakan dan tes sensitivitas.

7.34 INFEKSI LAIN YANG DAPAT MENYEBABKAN DEMAM NIFAS?

Tonsillitis, influenza dan infeksi akut lain misal appendicitis acute.

7.35 APA YANG HARUS DILAKUKAN TERHADAP PASIEN DEMAM NIFAS?

  1. Anamnesa gejala yang mengarah pada
    1. Infeksi tenggorokan atau telinga
    2. Mastitis atau abses mammae.
    3. Infeksi paru/ saluran pernafasan bagian bawah.
    4. Infeksi saluran air seni.
    5. Infeksi luka operasi
    6. Infeksi traktus Genitalis.
    7. Tromboflebitis superfisial.
  2. Pemeriksaan secara sistematik:
    1. Tenggorokan dan telinga.
    2. Payudara.
    3. Pemeriksaan dada
    4. Luka operasi.
    5. Traktus Urinarius.
    6. Traktus Genitalis.
    7. Tungkai bawah.
  3. Pemeriksaan khusus:
    1. Hapusan Endocervical .
    2. ‘Midstream’ atau ‘catheter specimen of urine’.
  4. Berikan terapi yang memadai.

GANGGUAN PSIKIATRIK MASA NIFAS

7.36 APA SAJA GANGGUAN PSIKIATRIK YANG DAPAT TERJADI PADA MASA NIFAS?

  1. "puerperal blues".
  2. Depresi pasca persalinan temporer.
  3. Puerperal psychosis.

7.37 MENGAPA GANGGUAN PSIKIATRIK MASA NIFAS HARUS DIKETAHUI?

  • "puerperal blues" sering terjadi pada minggu pertama pasca persalinan terutama pada hari ketiga. Pasien merasa sedih dan nestapa. Pasien memerlukan dukungan emosional dan simpati. Umumnya keadaan ini berngsur-angsur menghilang dalam beberapa hari.
  • Keadaan ini tidak jarang berlanjut menjadi ‘depresi pasca persalinan’ yang dapat berlangsung beberapa bulan bahkan sampai bertahun-tahun. .

*** Pasien depresi pasca persalinan seringkali tidak memperdulikan keadaan sekitarnya, hialng nafsu makan, gangguan tidur, rasa bersalah, rasa tak berdaya dan sering memiliki keinginan untuk bunuh diri. .

  • ‘Puerperal psychosis’ keadaan yang jarang terjadi namun harus menjadi satu perhatian. Kemunculan penyakit dapat terjadi secara akut dimana pasien secara mendadak memperlihatkan perubahan sikap dan perilaku. Keadaan pasien dapat membahayakan jiwa anaknya, dirinya ataupun lingkungannya. Pasien ini harus segera memperoleh pertolongan ahli psikiatri.

*** Pasien psikosis puerperalis tidak mampu merawat dirinya sendiri apalgi anaknya. Seringkali terjadi disorientasi , paranoid dan halusinasi. Kadang-kadang gejala yang muncul adalah depresi dalam atau manic

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN SEKUNDER

7.38 APA YANG DIMAKSUD DENGAN HPP SEKUNDER?

Perdarahan pasca persalinan yang terjadi setelah 24 jam pasca persalinan sampai berakhirnya masa nifas. Kejadian ini sering berlangsung diantara hari ke 5 sampai hari ke 15 pasca persalinan.

7.39 MENGAPA HPP SEKUNDER INI PERLU DIPERHATIKAN?

  1. HPP sekunder dapat berlangsung sangat hebat sehingga menyebabkan terjadinya syok.
  2. Penyebab harus diatasi dengan baik agar HPP sekunder berhenti.

7.40 APA PENYEBAB HPP SEKUNDER?

  1. Infeksi traktus genitalis dengan atau tanpa sisa hasil konsepsi (plasenta atau selaput ketuban).
  2. Terkelupasnya lapisan infeksi servik atau vagina.
  3. Terbukanya jahitan sectio caesar bagian dalam.

Separuh etiologi kasus HPP sekunder tdiak diketahui secara pasti. .

*** Penyebab HPP sekunder lain: mola hidatidosa, khoriokarsinoma, gangguan faaal pembekuan darah .

7.41 PREDISPOSISI HPP SEKUNDER?

  1. Riwayat persalinan dengan plasenta atau selaput ketuban yang tidak lengkap.
  2. Febris puerperalis yang tidak diketahui penyebabnya
  3. Subinvolusio uteri
  4. Lochia berkepanjangan dan banyak.

7.42 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN HPP SEKUNDER?

  1. PENCEGAHAN:
    1. Pertolongan persalinan aseptik.
    2. Pemeriksaaan plasenta dan selaput ketuban pasca persalinan secara cermat.
    3. Robekan jalan lahir diperbaiki secara benar.
  2. TERAPI:
    1. Rawat di Rumah Sakit.
    2. Lihat kembali rekam medis.
    3. Lakukan hapusan endocervical untuk pemeriksaan bakteriologi.
    4. Berikan ampicillin + metronidazole (Flagyl) peroral.
    5. Berikan Syntometrine 1 ml intramuskular 20 units oxytocin in an intravenous infusion.
    6. Tranfusi bila Hb < 8g%. .
    7. Kuretase bila masih ada sisa konsepsi.

7.43 TEMUAN FISIK YANG DIDAPAT PADA PEMERIKSAAN FISIK YANG MENCURIGAKAN KEMUNGKINAN SISA PLASENTA ATAU SELAPUT KETUBAN SEBAGAI PENYEBAB HPP SEKUNDER?

  1. Involusi uterus berlangsung secara lambat
  2. Ostium servik masih terbuka setelah hari ke 7 pasca persalinan

PROBLEMA KASUS.

KASUS 1

Setelah berlangsungnya proses persalinan normal pervaginam, plasenta dan selaput ketuban dilahirkan secara lengkap. Kondisi ibu dan anak dalam keadaan baik. Tidak terjadi perdarahan per vaginam abnormal. Anda bekerja seorang diri dan terpaksa harus meninggalkan pasien sendiri tanpa ada yang menunggu.

1. Apa yang anda harapkan dari penderita untuk mencegah kejadian HPP?

Kepada pasien ditunjukkan bagaimana melakukan obervasi :

  • Tinggi fundus uteri
  • Kontraksi uterus.
  • Jumlah perdarahan per vaginam.

Pasien juga diminta untuk mengosongkan kandung kemih lebih sering.

2. Apa yang harus dilakukan oleh pasien bila dia menyadari bahwa kontraksi uterus tidak baik dan perdarahan menjadi banyak?

Dia harus melakukan masase fundus uteri dan segera memanggil anda.

3. Apa yang harus anda periksa dengan baik sebelum meninggalkan pasien ?

Pastikan bahwa :

  1. Observasi ibu dan anak dalam keadaan baik.
  2. Pasien sudah mengerti apa yang harus dilakukan
  3. Anda akan dapat mendengar bila pasien memanggil.

KASUS 2

Pasien melakukan kunjungan 3 hari pasca kehamilan dan persalinan normal. Dia mengeluhkan terjadi keluar air seni secara tidak sengaja saat dia batuk atau tertawa. Dan dia juga mengeluhkan mengalami sembelit sejak pulang dari RS. Anak dalam keadaan baik, menyusu dengan baik dan tidur dengan baik setelah minum ASI. Keadaan umum penderita dalam keadaan baik, ukuran uterus kira-kira setengah simfisis pusat dan lochia rubra terlihat normal.

1. Apakah nifas berlangsung normal ?

Ya, dari keadaan umum, dan tinggi fundus uteri serta keadaan lochia semua nampaknya berlangsung secara normal..

2. Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi keluhan pasien?

‘Stress Incontinence’ sering terjadi pada masa nifas. Sampaikan hal tersebut pada pasien dan bahwa keadaan tersebut akan berangsur-angsur menghilang. Berikan cara untuk melakukan latihan otot dasar panggul untuk mempercepat proses penyembuhan. Pasien juga tidak perlu merisaukan keluhan sembelit, hal ini akan mudah berlalu. Berikan nasihat agar pasien banyak minum, makan sayur dan buah-buahan.

3. Sebutkan topik penyuluhan saat kunjungan pasca persalinan tersebut!

  1. Perencanaan jumlah anak dan Keluarga Berencana
  2. Perawatan anak
  3. Saat memulai aktivitas seksual pasca persalinan

KASUS 3

Setelah satu proses persalinan lama pada kala I akibat posisio osipitalis posterior dan persalinan terjadi pada presentasi belakang kepala. Plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap. Tidak terjadi HPP dan pasien dipulangkan setelah dirawat selama 12 jam. 18 jam pasca pemulangan, pasien kembali ke klinik dengan keluhan demam 390C, nadi 120 dpm dan mengeluh sakit kepala dan nyeri perut bagian bawah. Uterus teraba agak lunak.

1. Apa yang sedang terjadi ?

Febris puerperalis

2. Apa kira-kira penyebab dari febris puerperalis ini?

Infeksi traktus urogenitalis. Diperkirakan ini akibat VT berulang kali mengingat adanya persalinan kala I lama.

3. Apakah penatalaksanaan pasca persalinan sudah dikerjakan dengan tepat?

Tidak. Seharusnya pasien dengan resiko tinggi seperti ini tidak dipulangkan kurang dari 24 jam.

4. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini selanjutnya?

Pasien harus dirawat di RS

Pasang infus RL : D5 = 2 : 2

Diberikan antipiretik (Panadol 1 gram tiap 6 jam per oral)

Diberikan antibiotika Ampicilline + Metronidazole intra vena.

Observasi keadaan umum secara tepat.

KASUS 4.

Pasien datang pada hari ke 5 pasca persalinan. Sebelumnya kehamilan dan persalinan berlangsung secara normal. Pasien mengeluh nyeri abdomen bagian bawah dan menggigil. Suhu tubuh 38.50C dan nyeri pada daerah costoangel disekitar kedua ginjal. Saat itu ditegakkan febris puerperalis dan pasien diberi Ampicilline 500 mg 4 dd I. Dan pasien diminta kembali 2 hari kemudian.

1. Puaskah anda dengan diagnosa feberis puerperalis?

Tidak. Febris puerperalis adalah tanda klinik bukan diagnosis. Penyebab demam diperoleh melalui anamnesa, pemeriksaan dan pemeriksaan tambahan lain.

2. Apa kira-kira dugaan penyebab febris puerperalis ini?

Infeksi traktus urinarius bagian atas oleh karena demam disertai dengan menggigil, nyeri abdomen dan daerah sekitar ginjal

3. Apakah anda setuju dengan penatalaksanaan yang diberikan?

Tidak, pasien tersebut harus diraeat di RS dan mendapatkan terapi antibiotika par enteral.

4. Mengapa pasien nifas memiliki resiko tinggi mengalami infeksi saluran kencing dan bagaimana mecegahnya ?

Kateterisasi sering kali diperlukan meskipun meningkatkan resiko infeksi saluran air seni. Kateterisasi dilakukan bila sangat perlu dan dikerjakan secara aseptik.

.

0 komentar:

Poskan Komentar