Pages

Selasa, 16 Juni 2009

Proses Persalinan Normal

PERSALINAN NORMAL

dr.Bambang Widjanarko, SpOG


PENDAHULUAN

Persalinan (partus) adalah peristiwa keluarnya janin dari uterus. Persalinan terdiri dari dua peristiwa utama yaitu proses persalinan-kala I (labor) dan proses kelahiran-kala II (delivery).

  • Proses persalinan (labor) : proses dilatasi dan pendataran servik yang progresif akibat adanya kontraksi uterus yang berulang serta proses meneran untuk mengawali ekspulsi produk konsepsi.
  • Proses kelahiran (delivery) : ekspulsi janin dan plasenta.

Tujuan penatalaksanaan pada peristiwa persalinan [partus] adalah memungkinkan berlangsungnya proses tersebut secara normal dengan komplikasi ibu atau janin yang sangat minimal.

Staf penolong persalinan harus melakukan segala sesuatu untuk :

  1. Memberikan kenyamanan bagi pasien dan menumbuhkan adanya interaksi staf kamar bersalin dengan keluarga.
  2. Menjelaskan proses persalinan yang sedang berlangsung.
  3. Memberi kesempatan bagi ibu untuk kontak fisik sedini mungkin dengan bayinya yang baru dilahirkan.
  4. Mengantisipasi setiap permasalahan atau komplikasi yang terjadi.

Penatalaksanaan terbaik pada peristiwa persalinan adalah observasi yang baik dan melakukan intervensi dengan cara dan pada saat yang tepat.

Persalinan dan kelahiran adalah peristiwa kompleks yang melibatkan prostaglandin, cytokine dan hormon seksual steroid.

Jenis persalinan didasarkan pada usia kehamilan sehingga dikenal adanya persalinan preterm yang terjadi pada kehamilan < style="font-weight: bold;">persalinan aterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan > 37 minggu.


PERSIAPAN FISIOLOGIS MENJELANG PERSALINAN

Sebelum onset “true labor” terjadi beberapa perubahan fisiologis.

Pada nulipara, biasanya kepala janin masuk panggul ± 2 minggu sebelum persalinan [lightening].

Kontraksi Braxton Hicks menjadi semakin sering (setiap 10 – 20 menit).

Beberapa hari sebelum persalinan, servik menjadi lunak-mendatar dan sedikit membuka serta terdapat ”show” (berupa lendir bercampur darah) . Disebut inpartu, biasanya bila dilatasi servik sudah mencapai 2 cm.

“True labor” :

  1. Kontraksi uterus berlangsung secara teratur dan semakin sering serta intensitas yang semakin kuat.
  2. Rasa tak nyaman pada punggung dan abdomen .
  3. Terjadi dilatasi servik.
  4. Kontraksi uterus tak dapat dihentikan dengan pemberian sedasi.

“False labor”

  1. Kontraksi uterus tidak teratus dan interval semakin panjang dan intensitas tidak berubah.
  2. Rasa nyaman terutama pada bagian bawah abdomen.
  3. Tidak terdapat dilatasi servik.
  4. Rasa sakit umumnya hilang dengan pemberian sedasi.


KARAKTERISTIK PERSALINAN NORMAL

Stadium persalinan dibagi menjadi 3 :

    1. Persalinan kala I : mulai saat inpartu sampai dilatasi lengkap
    2. Persalinan kala II : mulai dilatasi lengkap sampai janin lahir
    3. Persalinan kala III : Kala pengeluaran plasenta
    4. [Persalinan kala IV] : 2 jam pasca persalinan

clip_image002

Gambar Kurve persalinan normal dan posisi kepala janin


Menurut Friedman 1967, Persalinan kala I terdiri dari 2 fase :

  • Fase LATEN (dilatasi 0 – 3 cm)
  • Fase AKTIF (dilatasi 3 – 10 cm)

Fase aktif :

  • Fase akselerasi
  • Fase dilatasi maksimal
  • Fase deselerasi

Pada fase aktif, kecepatan dilatasi servik pada nulipara ± 1.2 cm dan pada multipara ± 1.5 cm. Lama kala I persalinan pada nulipara 8 jam dan pada multipara 5 jam.

Evaluasi kemajuan persalinan

Persalinan Kala I dinilai melalui kecepatan perubahan pendataran dan dilatasi servik serta desensus bagian terendah janin.

Frekuensi dan durasi kontraksi uterus bukan tanda-tanda untuk menilai kemajuan proses persalinan pada kala I.

Persalinan kala II dimulai saat pembukaan lengkap. Kemajuan persalinan kala II dinilai dari desensus - fleksi dan putar paksi dalam bagian terendah janin.

PENATALAKSANAAN PERSALINAN NORMAL

Faktor yang perlu dinilai dan dicatat dalam persalinan :

  1. Waktu terjadinya kontraksi uterus pertama kali, frekuensi kontraksi uterus, keadaan selaput ketuban, riwayat perdarahan atau gangguan pada gerakan janin.
  2. Riwayat alergi, medikasi, saat makan terakhir.
  3. Tanda vital ibu, protein urine dan glukosa serta pola kontraksi uterus.
  4. Detik jantung janin, presentasi dan tafsiran berat badan janin.
  5. Keadaan selaput ketuban, dilatasi & pendataran servik dan derajat penurunan bagian terendah janin melalui pemeriksaan dalam (vaginal toucher) kecuali bila terdapat kontraindikasi melakukan VT (perdarahan antepartum).

Pada saat masuk kamar bersalin perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium :

  • Hematokrit dan hemoglobin.
  • Faal pembekuan darah (waktu pembekuan dan waktu perdarahan).
  • Golongan darah.

PERSALINAN KALA I

  • Pasien diperkenankan untuk berjalan-jalan sesuai keinginannya.
  • Tidak perlu puasa, dapat diberikan makan dalam bentuk cair.
  • Bila perlu dapat diberikan cairan intravena untuk memenuhi kebutuhan cairan dan kalori.
  • Nadi dan tekanan darah diperiksa setiap 2 – 4 jam.
  • Dilakukan pencatatan keseimbangan cairan (produksi urine dan cairan intravena atau peroral).
  • Dapat dipertimbangkan pemberian analgesia bila pasien memerlukan oleh karena merasa sangat nyeri dan tidak bisa hilangk dengan pemberian informasi mengenai jalannya persalinan.
  • Pemeriksaan kesehatan janin melalui pemantauan janin dengan kardiotokografi.
  • Pada kasus resiko rendah dengarkan DJJ tiap 30 menit (pada kasus resiko tinggi setiap 15 menit) segera setelah kontraksi uterus.
  • Pemantauan kontraksi uterus melalui palpasi dilakukan tiap 30 menit untUk menentukan frekuensi, durasi dan intensitas his. Pada fase aktif penilaian dilatasi dan desensus dengan VT dilakukan tiap 2 jam.

Tindakan amniotomi rutin tidak boleh dilakukan sebelum dilatasi servik lengkap.

PERSALINAN KALA II

  • Pada awal kala II (dilatasi servik lengkap), terdapat reflek meneran dari ibu pada tiap kontraksi uterus.
  • Tekanan abdomen disertai dengan kontraksi uterus akan mendorong janin keluar dari jalan lahir.
  • Pada kala II, kemajuan persalinan ditentukan berdasarkan derajat desensus (gambar 12.2). Pada saat bagian terendah janin berada setinggi spina ischiadica maka dikatakan penurunan pada stasion 0.
  • Pada primigravida, umumnya kala II berlangsung selama ± 50 menit dan pada multigravida ± 20 menit.

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul - “seven cardinal movements of labor” yang terdiri dari :

  1. Engagemen
  2. Fleksi
  3. Desensus
  4. Putar paksi dalam
  5. Ekstensi
  6. Putar paksi luar
  7. Ekspulsi

Gerakan-gerakan tersebut terjadi pada presentasi kepala dan presentasi bokong.

Gerakan-gerakan tersebut menyebabkan janin dapat mengatasi rintangan jalan lahir dengan baik sehingga dap[at terjadi persalinan per vaginam secara spontan.

Engagemen

  • Suatu keadaan dimana diameter biparietal sudah melewati pintu atas panggul.
  • Pada 70% kasus, kepala masuk pintu atas panggul ibu pada panggul jenis ginekoid dengan oksiput melintang (tranversal)
  • Proses engagemen kedalam pintu atas panggul dapat melalui proses normal sinklitismus , asinklitismus anterior dan asinklitismus posterior :
    • Normal sinklitismus : Sutura sagitalis tepat diantara simfisis pubis dan sacrum.
    • Asinklitismus anterior : Sutura sagitalis lebih dekat kearah sacrum.
    • Asinklitismus posterior: Sutura sagitalis lebih dekat kearah simfisis pubis (parietal bone presentasion

Fleksi

Gerakan fleksi terjadi akibat adanya tahanan servik, dinding panggul dan otot dasar panggul.

Fleksi kepala diperlukan agar dapat terjadi engagemen dan desensus.

Bila terdapat kesempitan panggul, dapat terjadi ekstensi kepala sehingga terjadi letak defleksi (presentasi dahi, presentasi muka).

Desensus

Pada nulipara, engagemen terjadi sebelum inpartu dan tidak berlanjut sampai awal kala II; pada multipara desensus berlangsung bersamaan dengan dilatasi servik.

Penyebab terjadinya desensus :

  1. Tekanan cairan amnion
  2. Tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong
  3. Usaha meneran ibu
  4. Gerakan ekstensi tubuh janin (tubuh janin menjadi lurus)

Faktor lain yang menentukan terjadinya desensus adalah :

  • Ukuran dan bentuk panggul
  • Posisi bagian terendah janin

Semakin besar tahanan tulang panggul atau adanya kesempitan panggul akan menyebabkan desensus berlangsung lambat.

Desensus berlangsung terus sampai janin lahir.

Putar paksi dalam- internal rotation

  • Bersama dengan gerakan desensus, bagian terendah janin mengalami putar paksi dalam pada level setinggi spina ischiadica (bidang tengah panggul).
  • Kepala berputar dari posisi tranversal menjadi posisi anterior (kadang-kadang kearah posterior).
  • Putar paksi dalam berakhir setelah kepala mencapai dasar panggul.

Ekstensi

Aksis jalan lahir mengarah kedepan atas, maka gerakan ekstensi kepala harus terjadi sebelum dapat melewati pintu bawah panggul.

Akibat proses desensus lebih lanjut, perineum menjadi teregang dan diikuti dengan “crowning”

Pada saat itu persalinan spontan akan segera terjadi dan penolong persalinan melakukan tindakan dengan perasat Ritgen untuk mencegah kerusakan perineum yang luas dengan jalan mengendalikan persalinan kepala janin.

Episiotomi tidak dikerjakan secara rutin akan tetapi hanya pada keadaan tertentu.

Proses ekstensi berlanjut dan seluruh bagian kepala janin lahir.

Setelah kepala lahir, muka janin dibersihkan dan jalan nafas dibebaskan dari darah dan cairan amnion. Mulut dibersihkan terlebih dahulu sebelum melakukan pembersihan hidung.

Setelah jalan nafas bersih, dilakukan pemeriksaan adanya lilitan talipusat sekitar leher dengan jari telunjuk. Lilitan talipusat yang terjadi harus dibebaskan terlebih dahulu. Bila lilitan talipusat terlalu erat dapat dilakukan pemotongan diantara 2 buah klem.

Putar paksi luar- external rotation

Setelah kepala lahir, terjadi putar paksi luar (restitusi) yang menyebabkan posisi kepala kembali pada posisi saat engagemen terjadi dalam jalan lahir.

Setelah putar paksi luar kepala, bahu mengalami desensus kedalam panggul dengan cara seperti yang terjadi pada desensus kepala.

Bahu anterior akan mengalami putar paksi dalam sejauh 450 menuju arcus pubis sebelum dapat lahir dibawah simfisis.

Persalinan bahu depan dibantu dengan tarikan curam bawah pada samping kepala janin .

Setelah bahu depan lahir, dilakukan traksi curam atas untuk melahirkan bahu posterior.

Traksi untuk melahirkan bahu harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari cedera pada pleksus brachialis.

Setelah persalinan kepala dan bahu, persalinan selanjutnya berlangsung pada sisa bagian tubuh janin dengan melakukan traksi pada bahu janin.

Setelah kelahiran janin, terjadi pengaliran darah plasenta pada neonatus bila tubuh anak diletakkan dibawah introitus vagina.

Penundaan yang terlampau lama pemasangan klem pada talipusat dapat mengakibatkan terjadinya hiperbilirubinemia neonatal akibat aliran darah plasenta tersebut.

Sebaiknya neonatus diletakkan diatas perut ibu dan pemasangan dua buah klem talipusat dilakukan dalam waktu sekitar 15 – 20 detik setelah bayi lahir dan kemudian baru dilakukan pemotongan talipusat diantara kedua klem.

clip_image053clip_image055

PERSALINAN KALA III

Persalinan kala III adalah periode persalinan antara lahirnya janin sampai lahirnya plasenta dan selaput ketuban.

Akibat masih adanya kontraksi uterus, ukuran plasenta dan “plasental site” mengecil sampai tersisa 25% → hematoma retroplasenta → terjadi separasi plasenta.

Separasi plasenta umumnya terjadi 5 menit setelah anak lahir.

Penatalaksanaan kala III :

  1. Penatalaksanaan klasik atau tradisional
  2. Penatalaksanaan aktif

Penatalaksanan fisiologik (ekspektatif)

Separasi plasenta dan selaput ketuban dibiarkan terjadi secara spontan.

Tanda separasi plasenta :

  1. Darah segar keluar dari vagina.
  2. Talipusat didepan vulva menjadi bertambah panjang.
  3. Fundus uteri naik.
  4. Bentuk uterus menjadi bulat dan mengeras

Setelah tanda separasi muncul, dilakukan masase uterus agar terjadi kontraksi uterus. Uterus yang sedang berkontraksi didorong kearah pelvis sehingga plasenta dan selaput ketuban bergerak seperti “piston” keluar vagina.

Plasenta yang keluar dicekap dan dipeluntir agar plasenta dan selaput ketuban dapat keluar secara utuh.

Penatalaksanaan aktif

Cara ini diyakini dapat menurunkan angka kejadian perdarahan pasca persalinan dari 4% menjadi 2%.

  1. Setelah janin lahir, disuntikkan methergin 0.5 ml i.m (atau oksitosin bila terdapat kontra-indikasi pemberian methergin)
  2. Untuk menghindari inversio uteri traksi talipusat hanya dilakukan saat ada kontraksi uterus dan dengan meletakkan tangan suprasimfisis
  3. Klem talipusat dipegang dengan tangan kanan dan talipusat diregangkan.
  4. Tangan kiri melakukan masase fundus uteri, bila sudah timbul kontraksi uterus, tangan kiri dipindahkan supra-simfisis dan kemudian dilakukan tarikan talipusat secara terkendali untuk melahirkan plasenta.
  5. Jangan melakukan tarikan pada talipusat untuk melahirkan plasenta pada saat tidak ada kontraksi uterus untuk mencegah terjadinya inversio uteri.





clip_image069


clip_image071


Inspeksi Plasenta dan selaput ketuban

  • Plasenta dan selaput ketuban diperiksa dengan jalan memegang talipusat untuk membuat plasenta dalam keadaan tergantung dan memeriksa “fetal surface” untuk melihat adanya pembuluh darah yang melewati tepi selaput ketuban.
  • Selaput ketuban diperiksa untuk memastikan tidak adanya selaput yang tertinggal dalam uterus.
  • “Maternal surface” plasenta diperiksa untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kotiledon yang tertinggal dalam uterus.

Retensio Plasenta

  • Batasan umum yang digunakan untuk retensio plasenta adalah bila plasenta tetap berada dalam uterus selama 1 jam.
  • Keadaan ini sering disertai dengan perdarahan pasca persalinan.

Etiologi:

  1. Inkarserasi dari plasenta yang sudah lepas seluruhnya dengan ostium servik yang sudah menutup.
  2. Atonia uteri.
  3. Plasenta akreta ( melekat pada desidua dan miometrium) atau plasenta perkreta ( menembus sampai peritoneum viseralis/serosa).

Penatalaksanaan :

  • Bila perdarahan sangat banyak maka plasenta harus segera dilahirkan dengan cara-cara yang sudah dijelaskan atau dilakukan plasenta manual.
  • Plasenta akreta atau plasenta perkreta memerlukan tindakan histerektomi.

Inspeksi Jalan Lahir

  • Setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, perdarahan biasanya berhenti.
  • Bila terdapat robekan perineum atau terdapat luka akibat tindakan episiotomi maka hal tersebut memerlukan perbaikan.
  • Pada persalinan dengan ekstraksi cunam, inspeksi jalan lahir harus meliputi servik.


PERBAIKAN LUKA JALAN LAHIR

Episiotomi

Episiotomi adalah insisi pada perineum dan vagina yang sudah sangat teregang untuk mencegah agar tidak terjadi perluasan dan robekan jalan lahir tak beraturan yang akan dapat menyebabkan terjadinya prolapsus uteri kelak.

Pandangan saat ini adalah bahwa tindakan episiotomi tidak boleh dilakukan secara rutin oleh karena dapat menyebabkan nyeri perineum yang berkepanjangan dan gangguan hubungan seksual sampai 6 bulan pasca episiotomi.

Bila luka episiotomi meluas menjadi ruptura perinei derajat III dan IV, sfingter ani harus diperbaiki dengan baik agar tidak terjadi inkontinensia urine dan atau inkontinensia ani.

Bila episiotomi harus dikerjakan karena regangan perineum yang sangat berlebihan, maka maksud dan tujuan dari tindakan tersebut harus dijelaskan pada pasien dan keluarganya terlebih dahulu. Tindakan episotomi harus dengan ijin pasien.

Episiotomi harus dikerjakan dengan anestesi regional atau lokal.

Episotomi dapat dikerjakan secara medial [midline] atau mediolateral.

Episiotomi Mediana :

- Perdarahan sedikit.

- Mudah meluas menjadi ruptura perinei totalis.

- Tehnik perbaikan lebih mudah.

- Keluhan dispareunia atau nyeri pasca persalinan minimal .

Episiotomi Medio-lateral:

- Perdarahan lebih banyak.

- Jarang meluas menjadi ruptura perinei totalis.

- Tehnik perbaikan lebih sulit.

- Keluhan dispareunia dan nyeri pasca persalinan lebih sering terjadi.





clip_image077




Ruptura perinei

Dikenal 4 derajat ruptura perinei :

  1. Derajat I : cedera pada commisura posterior, mukosa vagina dan otot dibelakangnya menjadi terbuka.
  2. Derajat II : cedera dinding vagina bagian posterior dan otot perineum, sfingter ani utuh.
  3. Derajat III : robekan pada sfingter ani namun mukosa rektum utuh.
  4. Derajat IV : kanalis ani terbuka dan robekan dapat meluas ke rectum.

Prinsip perbaikan luka episiotomi :

1. Hemostasis.

2. Restorasi anatomis tercapai tanpa jahitan berlebihan.

3. Benang yang digunakan chromic cat-gut atau poliglikolik # 3-0 .

clip_image080

clip_image083


Perbaikan pada ruptura perinei derajat IV

clip_image086

Gambar Perbaikan ruptura perinei totalis

A. Mendekatkan mukosa dan submukosa anorektum dengan benang “absorable” (misalnya chromic # 3-0 atau 4-0 atau Vicryl. Dilakukan identifikasi tepi atas laserasi canalis ani dan jahitan ditempatkan melalui submukosa anorektum dengan jarak ± 0.5 cm kearah lubang anus.

B. Lapisan kedua ditempatkan melalui otot rectum dengan Vicryl 3-0 secara jelujur atau terputus. ” Lapisan penguat” ini harus disatukan dengan ujung luka pada sfingter ani ( berupa otot polos sirkuler sejauh 2 – 3 cm dari canalis ani)

C. Dilakukan identifikasi ujung sfingter ani eksterna yang putus dan kemudian dijepit dengan “Allis” klem

D. 4 jahitan terputus pada otot sfingter ani yang terputus posisi jam 3-6-9-12

Robekan servik

  • Robekan servik dapat terjadi bila pasien meneran pada saat dilatasi servik belum lengkap dan ketuban sudah pecah.
  • Pasca tindakan persalinan operatif pervaginam (ekstraksi cunam), dapat menyebabkan terjadinya robekan servik.
  • Untuk keperluan hemostasis perbaikan robekan servik harus dimulai pada apex luka.

clip_image088

PENATALAKSANAAN PASCA PERSALINAN

Sebelum dirawat di ruang perawatan nifas, pasien pasca persalinan harus

  1. Keadaan umum baik .
  2. Kontraksi uterus baik dan tidak terdapat perdarahan pervaginam.
  3. Cedera perineum sudah diperbaiki.
  4. Kandung kemih kosong.



Rujukan

  1. American College of Obstetricians and Gynecologist: Optimal goals for anaesthesia care in obstetrics. Committee Opinion No 256, May 2001
  2. Cunningham FG et al : Normal Labor and Delivery in “ Williams Obstetrics” , 22nd ed, McGraw-Hill, 2005
  3. DeCherney AH. Nathan L : The course & Conduct of Normal Labor and Delivery ini Current Obstetrics and Gynecologic Diagnosis and Therapy , McGraw – Hill Companies, 2003
  4. Llewelyn-Jones : Obstetrics and Gynecology 7th ed. Mosby, 1999
  5. Poen AC, Felt-Nersma RJ, Strijers RL et al: Third degree obstetric perineal tear: Long-term clinical and functional result after primary repair. Br J surg 85:1433, 1998

2 komentar:

Eno Wijaya mengatakan...

nice blog

Unknown mengatakan...

refreshing

Poskan Komentar