Pages

Jumat, 19 Juni 2009

Unit 1 : Perawatan Antenatal

PANDUAN PENDIDIKAN PERINATAL

Unit 1 : Modul PERAWATAN ANTENATAL



TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan modul ASUHAN ANTENATAL ini, mahasiswa memiliki kemampuan untuk :

  1. Menyebutkan prinsip dan tujuan dari asuhan antenatal
  2. Menegakkan diagnosa kehamilan
  3. Membedakan kehamilan intra-uterin dengan kehamilan ekstra-uterin
  4. Menyebutkan prinsip dan tujuan kunjungan antenatal pertama dan berikutnya
  5. Mengetahui anamnesa dan pemeriksaan yang harus dilakukan pada kunjungan antenatal pertama
  6. Menetapkan usia kehamilan
  7. Menyebutkan tes skrining yang perlu dilakukan pada kunjungan antenatal pertama
  8. Menilai hasil tes skrining
  9. Identifikasi resiko kehamilan
  10. Menentukan jadwal kunjungan antenatal berikutnya
  11. Menyelenggarakan asuhan antenatal yang berorientasi pada masalah
  12. Menyebutkan komplikasi spesifik yang perlu diwaspadai pada kehamilan 28, 32 dan 42 minggu
  13. Memberikan penyuluhan kesehatan selama kunjungan antenatal

1.1 APA PRINSIP DAN TUJUAN ASUHAN ANTENATAL

Tujuan asuhan antenatal yang baik adalah:

  1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin
  2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan anak
  3. Mengenai secara dini adanya abnormalitas atau komplikasi selama kehamilan
  4. Mengupayakan berlangsungnya persalinan pada kehamilan aterm, ibu dan anak dapat melewati proses persalinan dengan selamat disertai dengan trauma persalinan seminimal mungkin
  5. Mempersiapkan ibu dan keluarga dalam menerima neonatus agar dapat tumbuh kembang secara normal

Tujuan diatas dapat tercapai bila asuhan antenatal dilakukan dengan cara berikut :

  1. Asuhan antenatal harus mengikuti rencana yang sudah ditetapkan.
  2. Asuhan antenatal harus berorientasikan masalah.
  3. Kemungkinan komplikasi dan faktor resiko yang mungkin terjadi pada usia kehamilan tertentu harus dicari pada kunjungan antenatal.
  4. Kondisi janin harus dinilai secara berulang.
  5. Selalu memberikan penyuluhan kesehatan pada setiap kesempatan


DIAGNOSA KEHAMILAN


1.2 BAGAIMANA CARA MEMASTIKAN ADANYA KEHAMILAN?

Gejala utama kehamilan adalah amenorea, mual, payudara tegang dan sering berkemih. Bila berdasarkan anamnesa dicurigai terjadinya kehamilan, diagnosa ditegakkan secara mudah melalui pemeriksaan air seni dengan menggunakan tes kehamilan. Tes kehamilan menunjukkan hasil positip 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir – HPHT.


PASTIKAN ADANYA KEHAMILAN SEBELUM MELAKUKAN ASUHAN ANTENATAL

Tes kehamilan positip ditunjukkan pada kehamilan intrauterin maupun ekstrauterin. Oleh karena itu perlu dipastikan apakah hasil konsepsi berada didalam uterus atau tidak.


1.3 BAGAIMANA CARA MENEGAKKAN DIAGNOSA KEHAMILAN INTRA-UTERIN?

Karakteristik kehamilan intrauterin adalah :

  1. Besar uterus sebanding dengan usia kehamilan
  2. Tidak terdapat nyeri abdomen bagian bawah atau perdarahan per vaginam
  3. Tidak dijumpai adanya ketegangan dinding abdomen bagian bawah

Catatan : Tidak terdapat ketegangan daerah adneksa pada pemeriksaan vagina bimanual

1.4 BAGAIMANA CARA MENEGAKKAN DIAGNOSA KEHAMILAN EKSTRA-UTERIN?

Karakteristik kehamilan ekstrauterin:

  1. Ukuran uterus lebih kecil dari perkiraan usia kehamilan
  2. Umumnya terdapat rasa nyeri pada dinding abdomen bagian bawah dan perdarahan per vaginam
  3. Umumnya dinding abdomen bagian bawah tegang

Catatan : Terdapat ketegangan, masa (penebalan atau benjolan) pada adneksa sisi tertentu pada pemeriksaan vagina bimanual


KUNJUNGAN ANTENATAL PERTAMA


Kunjungan ini adalah pertemuan pertama kali antara pasien dengan petugas medis selama kehamilan Oleh karena itu, pasien tersebut harus memperoleh pelayanan yang baik agar memperoleh keyakinan, merasa aman dan selanjutnya bersedia bekerjasama dengan petugas medis. Kesempatan ini digunakan untuk mencatatkan pasien kedalam program asuhan antenatal sehingga dapat menjamin berlangsungnya deteksi dini komplikasi yang dapat dicegah.


1.5 PADA USIA KEHAMILAN BERAPA SEHARUSNYA PASIEN MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL YANG PERTAMA KALI?.

SEMUA PASIEN HAMIL HARUS DICATAT SEDINI MUNGKIN

Sedini mungkin, disarankan segera setelah pasien tidak mendapatkan haid misalnya setelah 2 minggu tidak mendapatkan haid yang diharapkan. Perlu diketahui bahwa untuk alasan praktis, usia kehamilan dihitung dari hari pertama haid terakhir-HPHT

1.6 APA TUJUAN KUNJUNGAN ANTENATAL YANG PERTAMA?

  1. Mencatat anamnesa secara lengkap
  2. Melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap
  3. Menetapkan usia kehamilan
  4. Melakukan tes skrining yang penting
  5. Identifikasi kasus kehamilan resiko tinggi pada sejumlah pasien

1.7 ANAMNESA APA YANG HARUS DITANYAKAN?

Anamnesa secara lengkap yang meliputi :

  1. Riwayat obstetri masa lalu
  2. Riwayat obstetri kehamilan ini
  3. Riwayat penyakit (medikasi & alergi, pembedahan, keluarga)
  4. Riwayat sosial ekonomi

1.8 APA GUNA PERTANYAAN MENGENAI RIWAYAT OBSTETRI?

  1. Menentukan jumlah kehamilan (graviditas), jumlah kehamilan masa lalu yang mencapai usia “viable” (paritas) dan pada pasien tertentu: jumlah abortus dan kehamilan ektopik. Informasi hal-hal diatas berkaitan dengan faktor penting tertentu :
    1. Grandemultipara (pernah mengalami proses kehamilan yang telah mencapai usia “viable” lebih dari 5 kali)
    2. Abortus berulang sampai 3 kali atau lebih pada kehamilan yang telah mencapai trimester pertama mencurigakan adanya abnormalitas genetik pada ibu atau ayah. Riwayat kegagalan kehamilan trimester kedua yang berulang mencurigakan adanya inkompetensia servik
    3. Kehamilan ektopik, pastikan bahwa kehamilan saat ini adalah kehamilan intra uterin
    4. Kehamilan kembar, kehamilan kembar non-identik cenderung berulang
  2. Berat badan lahir, usia kehamilan dan cara persalinan dari bayi yang pernah dilahirkan serta adanya kematian perinatal merupakan data penting yang tidak boleh dilewatkan.
    1. Kejadian melahirkan janin dengan berat badan lahir rendah sebelumnya atau riwayat persalinan preterm cenderung berulang
    2. Riwayat persalinan dengan janin berat badan lebih dari 4 kg mencurigakan adanya Diabetes Melitus maternal
    3. Jenis persalinan sebelumnya: riwayat persalinan operatif pervaginam dengan ekstraksi cunam atau vakum mencurigakan adanya gangguan imbang sepalopelvik. Pada kasus dengan riwayat seksio sesar, harus diketahui indikasi dan jenis tindakan seksio sesar tersebut.
    4. Jenis insisi uterus merupakan hal penting oleh karena seksio sesar dengan insisi tranversal pada segmen bawah rahim memberikan kemungkinan masih dapat berlangsungnya persalinan normal pervaginam pada kehamilan berikutnya.
    5. Riwayat kematian perinatal satu kali atau lebih menempatkan pasien pada resiko tinggi terjadinya kematian perinatal pada kehamilan berikutnya. Dengan demikian maka sedapat mungkin harus dicari informasi mengenai penyebab kematian perinatal tersebut. Bila tidak berhasil mengetahui penyebab kematian perinatal maka kemungkinan terjadinya kematian perinatal berikutnya menjadi lebih besar.
  3. Komplikasi persalinan sebelumnya
    1. Pada periode antenatal: misalnya pre-eklampsia, persalinan preterm, DM dan perdarahan antepartum. Pasien yang mengalami pre-eklampsia sebelum usia kehamilan 34 minggu memiliki resiko tinggi berulangnya kejadian pre-eklampsia pada kehamilan berikutnya.
    2. Kala I persalinan: persalinan lama
    3. Kala II persalinan: distosia bahu
    4. Kala III persalinan: retensio plasenta atau perdarahan pasca persalinan.

KOMPLIKASI PADA KEHAMILAN SEBELUMNYA CENDERUNG BERULANG PADA KEHAMILAN BERIKUTNYA. OLEH KARENA ITU, PASIEN DENGAN RIWAYAT KEMATIAN PERINATAL MEMILIKI RESIKO TINGGI UNTUK KEJADIAN KEMATIAN PERINATAL BERIKUTNYA, SEMENTARA ITU PASIEN DENGAN RIWAYAT PERSALINAN PRETERM MEMILIKI RESIKO TINGGI UNTUK KEJADIAN PERSALINAN PRETERM PADA KEHAMILAN BERIKUTNYA.


1.9 APA SAJA INFORMASI YANG PERLU DIPEROLEH SAAT MELAKUKAN ANAMNESA MENGENAI RIWAYAT KEHAMILAN SAAT INI?

  1. Hari pertama haid terakhir harus ditentukan se akurat mungkin
  2. Setiap masalah obstetri atau medis yang dialami oleh pasien sesaat setelah kehamilan ini :
    1. Penyakit demam (menyerupai influenza) dengan atau tanpa ruam kulit
    2. Keluhan saat berkemih
    3. Perdarahan pervaginam
  3. Perhatian harus diberikan terhadap keluhan ringan yang dialami pasien selama kehamilan ini :
    1. Mual dan muntah
    2. Dada panas
    3. Konstipasi
    4. Edema tungkai dan tangan
  4. Apakah kehamilan yang sedang berlangsung merupakan kehamilan yang direncanakan atau adakah periode infertilitas sebelumnya
  5. Pada kehamilan trimester ketiga, perhatian harus diberikan pula pada kondisi janin

1.10 FAKTA-FAKTA PENTING APA YANG HARUS DIJADIKAN PERTIMBANGAN DALAM MENETAPKAN HARI PERTAMA HAID TERAKHIR?

  1. Tanggal yang digunakan untuk menentukan usia kehamilan hanya bisa bila pasien mempunyai haid yang teratur sebelumnya.
  2. Apakah haid sebelumnya terjadi pada tanggal yang diperkirakan dan berlangsung seperti biasanya? Bila haid sebelumnya berlangsung lebih singkat dan lebih awal dari sebelumnya maka perdarahan yang diduga haid tersebut adalah perdarahan implantasi (“implantation bleed”) Dalam keadaan ini, haid seblumnya yang harus digunakan untuk menentukan usia kehamilan.
  3. Pasien dengan kontrasepsi oral atau injeksi harus sudah mengalami haid yang spontan setelah menghentikan penggunaan kontrasepsi, bila tidak maka hari pertama haid terakhir tidak dapat digunakan untuk menentukan usia kehamilan.

1.11 APA KEPENTINGAN PERTANYAAN MENGENAI RIWAYAT MEDIK LAIN?

Sejumlah kondisi medis mungkin menjadi lebih gawat selama kehamilan misalnya pasien dengan kelainan katub jantung yang dapat mengalami gagal jantung atau pasien hipertensi kronis yang akan dapat mengalami pre-eklampsia.

Tanyakan apakah pasien menderita :

  1. Hipertensi
  2. Diabetes Melitus
  3. Penyakit jantung
  4. Epilepsi
  5. Asma
  6. Tuberkulosa , dsb nya

1.12 APA KEPENTINGAN PERTANYAAN MENGENAI MEDIKASI YANG SEDANG DIPEROLEH DAN RIWAYAT ALERGI?

  1. Peroleh informasi mengenai medikasi yang digunakan secara rutin sebelumnya. Pertanyaan ini seringkali dapat mengarahkan kita pada penyakit tertentu yang tidak diperoleh saat melakukan anamnesa.
  2. Obat-obat tertentu memiliki potensi teratogenik pada trimester pertama kehamilan, antara lain retinoid yang digunakan sebagai obat jerawat
  3. Sejumlah obat berbahaya bagi janin bila digunakan menjelang aterm misalnya Warfarin
  4. Riwayat alergi misalnya riwayat alergi penicilline

1.13 RIWAYAT PEMBEDAHAN APA YANG PERLU MEMPEROLEH PERHATIAN?

  1. Operasi sistem urogenitalis misalnya seksio sesar, miomektomi, konisasi servik, operasi untuk “stress incontinence”, reparasi fistula vesicovaginal
  2. Pembedahan jantung misalnya penggantian katub jantung

1.14 MENGAPA RIWAYAT KELUARGA PERLU DITANYAKAN?

Riwayat keluarga terdekat dengan kondisi tertentu misalnya diabetes melitus, kehamilan kembar, gangguan perdarahan, retardasi mental mungkin juga terjadi pada pasien dan atau akan diturunkan pada anaknya.

1.15 MENGAPA INFORMASI KONDISI SOSIAL ADALAH HAL YANG PENTING?

  1. Tanyakan apakah pasien merokok atau peminum alkohol. Merokok dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat-PJT dan minum alkohol selain menyebabkan PJT juga dapat menyebabkan terjadinya kelainan kongenital.
  2. Ibu yang tidak menikah memerlukan bantuan dalam perencanaan perawatan anak.
  3. Ibu yang tidak bekerja, sanitasi lingkungan perumahan yang buruk dan kumuh meningkatkan resiko tuberkulosis, malnutrisi dan PJT. Pasien yang hidup di lingkungan sosial ekonomi buruk memerlukan perhatian secara khusus.

1.16 SISTEM TUBUH MANA YANG MEMERLUKAN PERHATIAN KHUSUS SAAT PEMERIKSAAN FISIK?

  1. Penampilan umum yang memperlihatkan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh
  2. Tinggi dan berat badan yang mencerminkan status nutrisi pasien
  3. Sistem tubuh tertentu yang memerlukan perhatian khusus :
    1. Kelenjar tiroid
    2. Payudara
    3. Kelenjar getah bening leher, aksila dan inguinal
    4. Sistem respirasi ,
    5. Sistem kardiovaskular
    6. Abdomen
    7. Genitalia eksterna dan interna

1.17 APA KEPENTINGAN PEMERIKSAAN KELENJAR TIROID?

Kelenjar tiroid yang terlihat merupakan satu kelainan dan harus memperoleh pemeriksaan lebih lanjut

Catatan : Kelenjar TIroid yang teraba sedikit membesar secara merata adalah keadaan yang normal selama kehamilan. Pembesaran yang terlihat sangat jelas dan menunjukkan adanya benjolan adalah keadaan yang abnormal sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan

1.18 APA KEPENTINGAN PEMERIKSAAN PAYUDARA?

  1. Puting susu yang terbenam (inverted) harus terdiagnosa dan diatasi sehingga tidak menyulitkan ibu dalam memberikan ASI nya kelak.
  2. Sekret kental atau berdarah yang keluar dari payudara harus diperiksa lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan adanya keganasan.
  3. Bila memungkinkan, pasien disarankan dan dianjurkan untuk memberikan ASI. Penyuluhan mengenai manfaat pemberian ASI merupakan bagian penting dalam penyuluhan kesehatan pada saat asuhan antenatal.

1.19 APA KEPENTINGAN PEMERIKSAAN SISTEM RESPIRASI DAN KARDIOVASKULAR?

  1. Mencari adanya tanda-tanda yang mencurigakan terjadinya dispnoe
  2. Tekanan darah harus diukur dan frekuensi denyut nadi harus dihitung

Catatan :

  1. Suara pernafasan yang tidak normal pada lobus paru bagian atas mencurigakan adanya tuberkulosis. Pasien ini memerlukan pemeriksaan lanjutan.
  2. Pada pemeriksaan jantung, perlu melakukan auskultasi untuk mengetahui adanya bising jantung. Bising fungsional sering terdengar pada masa kehamilan akibat peningkatan curah jantung dan tidak memerlukan pemeriksaan lanjutan. Bising fungsional tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut :
    1. Mid sistolik
    2. Perlahan dan tidak lebih dari 2/6
    3. Merupakan bising ejeksi
    4. Tidak menyebar
    5. Terdengar jelas sekitar lokasi mitral atau aorta

1.20 BAGAIMANA MELAKUKAN PEMERIKSAAN ABDOMEN PADA KUNJUNGAN ANTENATAL?

  1. Melihat bentuk abdomen dan memperkirakan usia kehamilan berdasarkan besarnya abdomen
  2. Palpasi abdomen untuk mengetahui adanya pembesaran organ atau masa abdomen
  3. Pengukuran jarak antara fundus uteri dengan tepi atas simfisis pubis
  4. Dilakukan pemeriksaan uterus

1.21 APA YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA PEMERIKSAAN GENITALIA EKSTERNA DAN INTERNA?

  1. Tanda-tanda penyakit menular seksual antara lain adanya ulkus tunggal atau beberapa, getah vagina yang purulen atau pembesaran kelenjar inguinal.
  2. Karsinoma servik merupakan keganasan yang sering terjadi disebagian besar komunitas. Stadium lanjut dari penyakit ini terlihat sebagai pertumbuhan bunga kol atau ulserasi servik. Servik yang nampak normal tidak menyingkirkan adanya kemungkinan adanya karsinoma servik yang dini.
  3. Melihat adanya penipisan dan pendataran servik
  4. Pemeriksaan bimanual harus meliputi pemeriksaan besar uterus dan berkaitan dengan usia kehamilan. Dilakukan pula pemeriksaan pada adneksa untuk mencari adanya masa ovarium atau tuba falopii

1.22 KAPAN HAPUSAN SERVIK SEBAGAI BAGIAN DARI PEMERIKSAAN GINEKOLOGI HARUS DILAKUKAN?

  1. Semua pasien diatas usia 30 tahun yang belum pernah melakukan pemeriksaan hapusan servik dengan hasil normal
  2. Semua pasien yang pernah melakukan pemeriksaan hapusan servik dengan hasil abnormal
  3. Semua pasien dengan servik yang nampak mencurigakan

SERVIK YANG TERLIHAT NORMAL TIDAK MENYINGKIRKAN KEMUNGKINAN ADANYA KARSINOMA TAHAP DINI


MENENTUKAN USIA KEHAMILAN

Informasi yang dapat digunakan untuk menentukan usia kehamilan :

  1. Hari pertama haid terakhir
  2. Ukuran uterus pada kehamilan > 18 minggu
  3. Jarak antara puncak fundus uteri - tepi atas simfisis pubis pada kehamilan > 18 minggu
  4. Ukuran janin
  5. Hasil pemeriksaan ultrasonografi

USIA KEHAMILAN HARUS DITENTUKAN SECARA AKURAT UNTUK MENGANTISIPASI TERJADINYA KOMPLIKASI KEHAMILAN PADA KEHAMILAN LANJUT

1.23 BAGAIMANA MENETAPKAN USIA KEHAMILAN DARI DATA HARI PERTAMA HAID TERAKHIR?

Dengan menggunakan rumus Naegel : Tanggal HPHT [+7] ; Bulan [-3]

Bila data hari pertama haid terakhir tidak jelas atau tidak memenuhi syarat, maka usia kehamilan harus ditentukan dengan cara lain.

1.24 BAGAIMANA MENETAPKAN USIA KEHAMILAN BERDASARKAN UKURAN UTERUS?

  1. Sampai dengan usia kehamilan 12 minggu, pemeriksaan bimanual dapat digunakan untuk menentukan usia kehamilan. Dengan demikian bila terdapat ketidakpastian mengenai usia kehamilan sebelum 12 minggu dapat dilakukan pemeriksaan bimanual
  2. Pada kehamilan 13 – 17 minggu dimana fundus uteri masih dibawah umbilkus, palpasi abdomen cukup akurat dalam memperkirakan usia kehamilan
  3. Diatas kehamilan 18 minggu, penentuan usia kehamilan dengan menggunakan ukuran jarak fundus uteri dengan simfisis dalam sentimeter lebih akurat

1.25 BAGAIMANA CARA MENETAPKAN USIA KEHAMILAN BILA UKURAN UTERUS DAN HPHT TIDAK SESUAI DENGAN PERKIRAAN USIA KEHAMILAN?

  1. Bila Fundus Uteri dibawah umbilikus ( usia kehamilan kurang dari 22 minggu ) :
    1. Bila usia kehamilan berdasarkan HPHT dengan besar uterus berbeda ≥ 3 minggu, besar uterus dianggap merupakan indikator yang lebih akurat dalam memperkirakan usia kehamilan.
    2. Bila usia kehamilan berdasarkan HPHT dengan besar uterus berbeda ≤ 3 minggu, maka usia kehamilan bedasarkan HPHT dianggap merupakan indikator yang lebih akurat dalam memperkirakan usia kehamilan
  2. Bila Fundus Uteri diatas umbilikus ( usia kehamilan lebih dari 22 minggu )
    1. Bila usia kehamilan berdasarkan HPHT dengan besar uterus berbeda ≥ 4 minggu, besar uterus dianggap merupakan indikator yang lebih akurat dalam memperkirakan usia kehamilan
    2. Bila usia kehamilan berdasarkan HPHT dengan besar uterus berbeda ≤ 4 minggu, besar uterus dianggap merupakan indikator yang lebih akurat dalam memperkirakan usia kehamilan

1.26 BAGAIMANA MENGGUNAKAN HASIL PENGUKURAN ANTARA FUNDUS DAN SIMFISIS DALAM MENETAPKAN USIA KEHAMILAN?

PERBEDAAN ANTARA PERKIRAAN USIA KEHAMILAN BERDASARKAN HPHT DENGAN UKURAN UTERUS UMUMNYA DISEBABKAN OLEH KARENA DATA HPHT YANG TIDAK BENAR.

Sejak kehamilan 18 minggu s/d 34 minggu, jarak antara FU - SF dalam sentimeter sama dengan usia kehamilan dalam minggu. Sebagai contoh, jarak FU – S 26 cm maka usia kehamilan diperkirakan 26 minggu.

1.27 KONDISI SELAIN HPHT YANG DAPAT MENYEBABKAN KETIDAK SESUAIAN ANTARA USIA KEHAMILAN YANG DIPERHITUNGKAN DARI HPHT DAN UKURAN UTERUS

  1. Besar uterus yang lebih besar dibandingkan dengan perkiraan usia kehamilan :
    1. Kehamilan kembar
    2. Polihidramnion
    3. Janin besar
    4. Diabetes Melitus
  2. Besar uterus yang lebih kecil dibandingkan dengan perkiraan usia kehamilan :
    1. PJT-Pertumbuhan Janin Terhambat
    2. Oligohidramnion
    3. Intra Uterin Fetal Death
    4. Pecah ketuban

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN PEMERIKSAAN KHUSUS

1.28 PEMERIKSAAN LABORATORIUM APA YANG HARUS DIKERJAKAN SECARA RUTIN?

  1. Kadar hemoglobin
  2. Tes urine : protein dan glukosa setiap kunjungan antenatal
  3. Pengambilan sedaan basah pada setiap keluhan keluarnya getah vagina yang disertai hal-hal tertentu (rasa gatal dan pedih, bau dan jumlah berlebihan) untuk diperiksa dibawah mikroskop

1.29 PEMERIKSAAN LABORATORIUM KHUSUS APA YANG HARUS DIKERJAKAN SECARA RUTIN?

  1. Tes skrining serologi untuk sifilis. Tes “RPR Card Test” dapat dilakukan secara poliklinis
  2. Penentuan golongan darah (ABO dan Rh). Sebuah tes “RH Card Test”dapat digunakan secara poliklinis
  3. Skrining cepat HIV setelah tahapan prakonseling dan dilakukan setelah pasien menanda tangani surat persetujuan pemeriksaan (“informed consent”)
  4. Hapusan servik pada kasus tertentu.
  5. Pemeriksaan urine (“mid stream”) pada kasus bakteriuria asimptomatik
  6. Pemeriksaan ultrasonografi pada kehamilan 18 – 22 minggu, pemeriksaan ini bermanfaat untuk :
    • Memastikan adanya kehamilan
    • Menentukan lokasi kantung gestasi
    • Memperkirakan usia kehamilan
    • Menyingkirkan kehamilan mola hidatidosa
    • Menyingkirkan kemungkinan kehamilan kembar
    • Menentukan lokasi plasenta
    • Skrining untuk kelainan kongenital (“gross anomalie”)

Catatan : Pasien yang memeriksakan kehamilannya secara dini harus mendapatkan pemeriksaan ultrasonografi pada kehamilan antara 11 – 12 minggu. Ahli ultrasonografi harus mengukur ketebalan lipatan kulit pada tengkuk janin untuk skrining adanya kelainan kromosom (Sindroma Down). Pemeriksaan ultrasonografi ulangan pada kehamilan 22 minggu dilakukan untuk mencari adanya defek struktural.

1.30 APAKAH PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI HARUS DIKERJAKAN PADA SEMUA PASIEN YANG MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL SEJAK KEHAMILAN MUDA

Manfaat pemeriksaan ultrasonografi bila dilakukan dengan peralatan yang baik dan tenaga yang kompeten :

  1. Menentukan usia kehamilan secara akurat bila pemeriksaan ultrasonografi pertama kali dilakukan sekurang-kurangnya sebelum kehamilan 24 minggu
  2. Menegakkan diagnosa kehamilan kembar secara dini
  3. Identifikasi lokasi plasenta
  4. Diagnosa sejumlah kelainan kongenital yang berat

Bila tidak mungkin untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi pada semua pasien antenatal sebelum kehamilan 24 minggu, maka prioritas pemeriksaan dilakukan terhadap pasien berikut ini:

  1. Pasien dengan usia kehamilan 14 – 16 minggu
    1. Pasien hamil berusia ≥ 37 tahun oleh karena kenaikan resiko melahirkan janin dengan abnormalitas kromosom (terutama sindroma Down). Pasien yang menghendaki tindakan terminasi kehamilan bila hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan kelainan harus terlebih menjalani pemeriksaan amniosentesis guna pemeriksaan lebih lanjut.
    2. Pasien dengan riwayat pernah melahirkan anak dengan kelainan kongenital atau memiliki catatan serupa dalam keluarga harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas pemeriksaan genetik.
  2. Pasien dengan usia kehamilan 18 – 22 minggu
    1. Pasien yang menghendaki persalinan elektif (misalnya pasien yang pernah menjalani seksio sesar 2 kali atau lebih, riwayat kematian perinatal, sectio caesar dengan insisi vertikal pada uterus, miomektomi atau diabetes melitus )
    2. Obesitas yang sering menyulitkan dalam menentukan usia kehamilan
    3. Riwayat pre-eklampsia, persalinan preterm pada kehamilan sebelum 34 minggu.Oleh karena keadaan tersebut sering berulang maka penentuan usia kehamilan secara akurat membantu dalam penatalaksanaan pasien

UNTUK MENENTUKAN USIA KEHAMILAN SECARA AKURAT PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI PERTAMA HARUS DIKERJAKAN PADA KEHAMILAN KURANG DARI 24 MINGGU

Pasien dengan sensitisasi Rhesus memerlukan penentuan usia kehamilan secara akurat dalam penatalaksanaan pasien.

1.31 BAGAIMANA CARA MENENTUKAN RESIKO KEHAMILAN?

Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan antenatal. Setelah pasien melakukan asuhan antenatal pertama kali, harus segera ditentukan apakah status pasien dan atau janin memiliki resiko tinggi. Sejumlah pasien segera dimasukkan ke dalam kehamilan resiko tinggi segera setelah melakukan asuhan antenatal yang pertama. Dan kepada mereka yang memiliki faktor resiko dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.

1.32 BILA TIDAK DIJUMPAI ADANYA FAKTOR RESIKO PADA SUATU KUNJUNGAN ANTENATAL, KAPAN PASIEN DIANJURKAN UNTUK MELAKUKAN KUNJUNGAN BERIKUTNYA?

Pasien diharapkan untuk kembali manakala hasil pemeriksaan skrining sudah diperoleh, selama-lamanya 2 minggu setelah kunjungan antenatal yang pertama.

1.33 BILA DIJUMPAI ADANYA FAKTOR RESIKO PADA SUATU KUNJUNGAN ANTENATAL, KAPAN PASIEN DIMINTA UNTUK KEMBALI MELAKUKAN KUNJUNGAN BERIKUTNYA?

  1. Pasien yang datang dalam keadaan sakit harus dirawat di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan, perawatan serta pengobatan yang diperlukan.
  2. Pasien yang memiliki faktor resiko segera memperoleh tindak lanjut sesegera mungkin misalnya pasien dengan hipertensi kronis segera ditangani dan dianjurkan untuk datang satu minggu kemudian.

1.34 BAGAIMANA ANDA MENCANTUMKAN FAKTOR RESIKO?

  1. Semua faktor resiko dicantumkan kedalam lembaran catatan medik
  2. Tindakan dalam penatalaksanaan yang akan dilakukan pada usia kehamilan tertentu juga dicantumkan ke dalam lembaran catatan medik, misalnya bahwa pada kasus dengan riwayat persalinan preterm akan dilakukan pemeriksaan vaginal pada setiap kunjungan antenatal pada kehamilan 26 sampai 32 minggu.

KUNJUNGAN ANTENATAL KEDUA

1.35 APA TUJUAN KUNJUNGAN ANTENATAL KEDUA?

  1. Penilaian ulang dan tindak lanjut pemeriksaan pada kunjungan pertama
  2. Untuk melakukan skrining kedua pada kasus kehamilan resiko tinggi

MENILAI HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM KHUSUS

1.36 BAGAIMANA MENAFSIRKAN HASIL TES SKRINING UNTUK SIFILIS

Penafsiran yang tepat merupakan hal yang sangat penting :

  1. Bila VDRL (Venereal Disease Researche Laboratory) dan atau RPR (Rapid Plasma Reagin) negatif, maka pasien tidak menderita sifilis dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap sifilis.
  2. Bila titer ≥ 1 : 16 , pasien menderta sifilis dan harus diobati
  3. Bila titer ≤ 1 : 8, laboratorium harus memeriksa sediaan yang sama dengan pemeriksaan lain misalnya dengan melakukan tes TPHA (Treponema Pallidum Haemoagglutinine Assay) atau tes FTA ( Fluorescent Treponemal Antibody)
    1. Bila TPHA (atau FTA) juga positif, pasien harus memperoleh terapi secara penuh
    2. Bila TPHA (atau FTA) negatif, maka pasien tidak perlu diobati
    3. Bila TPHA dan atau FTA tidak dapat dikerjakan dan pasien tidak mendapatkan terapi penuh untuk sifilis pada 3 bulan terakhir maka pasien tersebut sekarang harus diobati secara penuh

TITER VDRL ATAU RPR KURANG DARI 1 : 16 DAPAT DISEBABKAN OLEH SIFILIS

1.37 BAGAIMANA MENAFSIRKAN HASIL PEMERIKSAAN “RPR CARD”?

  1. Bila hasil tes negatif, kesimpulannya adalah pasien tidak menderita sifilis.
  2. Bila hasil tes positif kuat, pasien menderita sifilis dan terapi segera diberikan. Namun, sediaan darah harus dikirim ke laboratorium untuk konfirmasi dan pasien diminta datang kembali 1 minggu berikutnya. Terapi lanjutan tergantung pada hasil pemeriksaan di laboratorium. Penting untuk dijelaskan kepada pasien bahwa hasil pemeriksaan harus di periksa ulang oleh laboratorium.
  3. Bila hasil tes positif lemah, sediaan darah harus segera di kirim ke laboratorium dan pasien diminta datang kembali 1 minggu berikutnya. Terapi selanjutnya tergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium.

1.38 BAGAIMANA TERAPI SIPILIS DALAM KEHAMILAN?

Terapi pilihan untuk Sifilis adalah Penicilline. Bila pasien tidak alergi terhadap penicilline berikan Benzanthine Penicilline 2.4 juta unit i.m setiap minggu selama 3 minggu. Pada setiap kunjungan diberikan 1.2 juta unit pada masing-masing bokong. Injeksi ini menimbulkan rasa sakit sehingga harus dijelaskan kepada pasien agar menyelesaikan regimen pengobatan ini.

Benzathine Penicilline melewati plasenta sehingga janin ikut memperoleh manfaat terapi.

Terhadap pasien yang alergi terhadap Penicilline, diberikan Erythromycin 500 mg setiap 6 jam selama 14 hari. Namun obat ini tidak dapat melewati plasenta sehingga terapi ini tidak adekuat terhadap janin.

Pemberian Tetrasiklin merupakan kontraindikasi oleh karena dapat menyebabkan kerusakan pada gigi janin.

Pada penderita sifilis perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya infeksi menular seksual lain seperti misalnya Gonorrhoea. Pengobatan juga harus dikerjakan pada pasangan seksualnya.

1.39 BAGAIMANA MENAFSIRKAN HASIL TES “RAPID HIV”?

  1. Bila pemeriksaan dengan “Rapid HIV test” memberikan hasil NEGATIF maka kecil kemungkinan penderita untuk menderita HIV. Pasien harus mengetahui hasil pemeriksaan dan mendapatkan konseling untuk pasien dengan HIV negatif.
  2. Bila pemeriksaan dengan “Rapid HIV Test” memberikan hasil POSITIF, maka pemeriksaan harus diulang dengan menggunakan kit dari pabrik lain. Bila hasil pemeriksaaan ulang juga positif maka pasien menderita HIV. Pasien harus mengetahui hasil pemeriksaan dan mendapatkan konseling untuk pasien dengan HIV positif.
  3. Bila pemeriksaan pertama positif dan pemeriksaan ulangan negatif, maka status HIV pasien tidak tentu . Pasien harus memperoleh penjelasan mengenai hasil ini dan segera dilakukan pengambilan sediaan darah untuk dikirim kelaboratorium guna pemeriksaan tes ELISA untuk HIV
    1. Bila tes ELISA memberikan hasil negatif, kecil kemungkinan pasien untuk menderita HIV
    2. Bila tes ELISA memberikan hasil positif maka pasien memang menderita HIV

1.40 APA YANG HARUS DIKERJAKAN BILA HASIL PEMERIKSAAN SITOLOGI SERVIK ABNORMAL?

  1. Pasien yang memperlihatkan adanya karsinoma servik infiltratif harus segera di rujuk ke klinik onkologi ginekologi. Usia kehamilan memegang peranan penting dalam penatalaksanaan kasus
  2. Pasien yang memperlihatkan CIL-cervical intra epithelial lession low grade seperti CIN I (neoplasia intraepitelial), atipia atau kondiloma diperiksa ulang 9 bulan kemudian atau sesuai anjuran ahli sitologi.
  3. Pasien yang memperlihatkan CIL-cervical intra epithelial lession high grade seperti CIN II atau III, kondiloma atipikal harus segera dirujuk ke klinik onkologi ginekologi .

Catatan :

Pada rumah sakit rujukan dilakukan pemeriksaan kolposkopi. Bila tidak ada tanda karsinoma infiltratif, pasien diharapkan dapat melahirkan secara normal dan mendapatkan terapi definitif 6 minggu pasca persalinan.

Pasien yang secara makroskopik menampakan gambaran servik yang normal namun tempat tinggalnya di pelosok harus memperoleh pemeriksaan hapusan servik ulang pada kehamilan 32 minggu. Bila hasilnya tetap tidak berubah, pasien diharapkan dapat melahirkan secara normal dan memperoleh terapi lanjut 6 minggu pasca persalinan

4. Penemuan flora vagina abnormal harus di terapi sesuai dengan keluhan pasien.

1.41 APA YANG HARUS DIKERJAKAN BILA GOLONGAN DARAH PASIEN ADALAH RHESUS NEGATIF?

5 – 15% pasien adalah Rhesus negatif (yang berarti tidak memiliki Antigen Rhesus D dalam sel darah merah). Terhadap pasien ini, laboratorium golongan darah harus berupaya untuk memeriksa apakah pasien memiliki antibodi Rhesus anti-D.

  1. Bila tidak ditemukan antibodi anti-D, maka berarti pasien tidak tersensitisasi oleh antigen Rhesus. Pengambilan darah dilakukan pada kehamilan 26, 32 dan 38 minggu untuk menentukan apakah penderita selanjutnya telah membentuk antibodi anti-D.
  2. Bila ditemukan adanya antibodi anti-D, maka berarti pasien telah tersensitisasi oleh antigen Rhesus. Dengan titer antibodi anti-D ≥ 1 : 16, berarti pasien harus segera di rujuk ke rumah sakit yang mampu menangani hal seperti ini.
  3. Bila titer antibodi anti-D ≤ 1 : 16, harus dilakukan pengulangan pemeriksaan 2 minggu kemudian atau sesuai anjuran laboratorium pemeriksa.

1.42 APA PENTINGNYA ANTIBODI ATIPIKAL?

Terdapatnya jenis antibodi ini memperlihatkan bahwa pasien telah mengalami sensitisasi dengan antigen sel darah merah selain dari antigen Rhesus D. Dalam hal ini darah ayah harus diperiksa untuk menentukan apakah terdapat jenis antigen yang meningkatkan antibodi maternal tersebut :

  1. Bila antigen yang dimaksud ada, maka antibodi atipik tersebut dapat membahayakan janin maka pasien harus di rujuk ke rumah sakit yang mampu menangani kasus seperti ini.
  2. Bila antigen yang dimaksud tidak ada, maka antibodi atipikal tersebut biasanya terjadi akibat tranfusi dengan darah yang tidak kompatibel sebelumnya dan keadaan ini tidak membahayakan janin.

1.43 APA YANG HARUS DIKERJAKAN BILA TEMUAN ULTRASONOGRAFI TIDAK SESUAI DENGAN PERKIRAAN USIA KEHAMILAN?

Pada kehamilan 18 – 22 minggu :

  1. Bila usia kehamilan berdasarkan HPHT berada dalam rentang usia kehamilan yang diperoleh dari pemeriksaan ultrasonografi (biasanya 3 – 4 minggu), maka perkiraan usia kehamilan dianggap benar.
  2. Bila usia kehamilan berada diluar rentang penilaian oleh ultrasonografi maka perkiraan usia kehamilan dianggap tidak benar.

Bila pemeriksaan ultrasonografi dilakukan pada trimester I (≤ 14 minggu), penyimpangan dalam penentuan usia kehamilan biasanya hanya ± 1 minggu.

Harus diingat bahwa bila kehamilan telah mencapai usia ≥ 24 minggu maka interpretasi usia kehamilan berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi harus dilakukan secara hati-hati.

1.44 APA TINDAKAN YANG PERLU DILAKUKAN BILA HASIL PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI PADA KEHAMILAN 18 – 22 MINGGU MENUNJUKKAN ADANYA IMPLANTASI PLASENTA DI SEGMEN BAWAH RAHIM ?

Pada sebagian kasus, pada tahapan perkembangan kehamilan dimana tingkat pertumbuhan uterus masih melebihi tingkat pertumbuhan plasenta maka plasenta akan dapat berimplantasi di tempat yang tidak biasanya. Oleh karena itu, pada kasus seperti diatas dibutuhkan tindak lanjut pemeriksaan ultrasonografi ulangan pada kehamilan 32 minggu, dimana pada umumnya plasenta previa tipe II atau lebih sudah dapat diketahui sehingga dapat ditentukan ada tidaknya kejadian plasenta previa.

1.45 APA TINDAKAN YANG PERLU DILAKUKAN BILA HASIL PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI MEMPERLIHATKAN KEMUNGKINAN ADANYA ABNORMALITAS?

Pasien harus di rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas pemeriksaan ultrasonografi yang baik (ultrasonografi 3 D) untuk menentukan penatalaksanaan lebih lanjut.

PENENTUAN RESIKO KEHAMILAN

Untuk melengkapi kunjungan antenatal kedua, semua pasien harus dikelompokkan sesuai dengan faktor resiko yang ditemukan. Sejumlah pasien resiko tinggi sudah dapat di identifikasi sejak pada kunjungan antenatal pertama.

1.46 SEBUTKAN KATEGORI RESIKO KEHAMILAN :

Terdapat 3 kelompok resiko :

  1. Resiko rendah
  2. Resiko sedang
  3. Resiko tinggi

Pada kasus yang di golongkan kedalam Resiko Rendah tidak dijumpai faktor resiko ibu maupun anak. Kasus semacam ini dapat memperoleh pelayanan primer yang ditangani oleh bidan

Pada kasus yang digolongkan kedalam Resiko Sedang, pasien memerlukan perawatan kesehatan tertentu pada waktu-waktu tertentu. Sebagai contoh: grandemultipara yang memerlukan pemeriksaan tertentu pada kunjungan antenatal pertama dan kedua, pada kehamilan 34 minggu dengan kelainan letak, perawatan khusus selama persalinan dan pasca persalinan. Pasien tersebut berada di dalam resiko hanya pada masa-masa tertentu dalam kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Sebagian besar kasus semacam ini dapat di tangani oleh Bidan

Pada kasus yang digolongkan pada Resiko Tinggi, yang bersangkutan mutlak memerlukan perawatan tambahan berkelanjutan. Misalnya pasien dengan penyakit jantung atau pasien dengan kehamilan kembar. Penanganan kasus semacam ini diberikan oleh Dokter Ahli Obstetri Ginekologi berkolaborasi dengan bidang keahlian tertentu yang terkait.

KUNJUNGAN ANTENATAL ULANGAN

Prinsip umum :

  1. Kunjungan antenatal ulangan (misalnya kunjungan ke III dan IV) dilakukan dengan ber orientasi pada masalah
  2. Kunjungan pada kehamilan 28, 34 dan 42 minggu merupakan kunjungan antenatal penting. Pada kunjungan ini, harus dicari kemungkinan adanya komplikasi spesifik yang berkaitan dengan usia kehamilan
  3. Setelah kehamilan 28 minggu kesehatan janin harus lebih menjadi bagian dari penilaian yang regular.

1.47 BILAMANA PASIEN DIANJURKAN UNTUK KEMBALI MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL?

Bila kunjungan pertama dilakukan pada trimester pertama dan pada kunjungan kedua menunjukkan bahwa kehamilan memiliki resiko rendah maka kunjungan antenatal pasien tersebut dapat direncanakan sebagai berikut :

  1. Setiap 4 minggu sampai kehamilan 34 minggu
  2. Setiap 2 minggu dari kehamilan 32 – 36 minggu
  3. Setiap minggu pada kehamilan 36 sampai aterm

Pada keadaan tertentu seperti di daerah perdesaan, setelah pemeriksaan pertama kali kunjungan berikutnya dapat dilakukan pada kehamilan 28, 34 dan 40 minggu. Bila memungkinkan, primigravida harus melakukan kunjungan pada kehamilan 38 minggu.

1.48 PASIEN APA YANG MEMERLUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL YANG LEBIH SERING

Bila timbul komplikasi maka golongan resiko kehamilan berubah. Perubahan ini harus tercatat dalam rekam medik antenatal. Kunjungan antenatal harus dilakukan lebih sering sesuai dengan sifat faktor resiko yang ada.

Pada primigravida, bila memungkinkan maka kunjungan antenatal setelah kehamilan 36 minggu dilakukan sekurang-kurangnya dua minggu sekali untuk mengukur tekanan darah dan protein urine.

KUNJUNGAN ANTENATAL PADA KEHAMILAN 28 MINGGU

1.49 KOMPLIKASI KEHAMILAN APA YANG PERLU DICARI

  1. Perdarahan antepartum
  2. Tanda dini pre-eklampsia, pasien harus mendapat pemeriksaan protein urine dan tekanan darah
  3. Perubahan servik pasien yang memilki resiko persalinan preterm misalnya kehamilan kembar, riwayat persalinan preterm, polihidramnion
  4. Bila jarak simfisis pubis – tinggi fundus uteri kurang dari 10th sentile, cari penyebab masalah ini.
  5. Bila jarak simfisis pusat – tinggi fundus uteri lebih dari 90th sentile, cari penyebab masalah ini.
  6. Anemia gravidarum
  7. DM yang ditunjukkan dengan adanya glukosuria

1.50 MENGAPA PERDARAHAN ANTEPARTUM MERUPAKAN KEADAAN YANG SERIUS

  1. Solusio plasenta dapat meningkatkan angka kematian perinatal
  2. Merupakan gejala dari plasenta previa

1.51 BAGAIMANA CARA MENGAMATI KONDISI JANIN

  1. Ditanyakan mengenai frekuensi gerakan janin yang dirasakan dan harus waspada dan segera mendatangi klinik antenatal bila frekuensi gerakan janin secara mendadak berkurang atau bahkan tidak teraba gerakan anak lagi.
  2. Bila dicurigai terjadi PJT-Pertumbuhan Janin Terhambat atau terhadap pasien dengan riwayat pernah mengalami kematian perinatal, pasien diminta untuk melakukan penghitungan gerakan anak sekurang-kurangnya sekali dalam sehari sejak kehamilan 30 minggu dan mencatatkan hasilnya kedalam lembaran khusus.

KUNJUNGAN ANTENATAL PADA KEHAMILAN 34 MINGGU

1.52 MENGAPA KUNJUNGAN PADA KEHAMILAN 34 MINGGU MERUPAKAN HAL YANG PENTING?

  1. Semua faktor resiko yang perlu diperhatikan pada kehamilan 28 minggu (kecuali partus preterm) masih merupakan hal penting dan harus disingkirkan.
  2. Letak janin saat ini menjadi hal yang penting dan harus ditentukan. Bila presentasi janin bukan sefalik, bila tidak terdapat kontraindikasi harus dilakukan versi luar pada kehamilan 36 minggu. Grande multipara yang inpartu dengan kelainan letak memiliki resiko tinggi terjadinya ruptura uteri.
  3. Pasien pasca seksio sesar perlu mendapat penilaian lebih lanjut untuk menentukan rencana persalinan. Terhadap pasien dengan gangguan imbang fetopelvik, riwayat seksio sesar klasik perlu direncanakan tindakan seksio sesar secara elektif pada kehamilan sekitar 39 minggu.
  4. Payudara perlu dinilai kembali, inversi puting susu, ekskoriasi pada areola mammae dapat menganggu proses pemberian ASI. Kelainan tersebut harus diatasi.

KUNJUNGAN ANTENATAL PADA KEHAMILAN 42 MINGGU

1.53 MENGAPA KUNJUNGAN PADA KEHAMILAN 42 MINGGU MERUPAKAN HAL YANG PENTING

  1. Masalah pada ibu :
    1. Servik belum matang pada 72% kasus
    2. Kecemasan
    3. Persalinan traumatik akibat ukuran janin yang besar pada 20% kasus
    4. Angka kejadian seksio sesar meningkat oleh karena gawat janin dan partus lama akibat gangguan imbang sepalo pelvik
    5. Angka kejadian perdarahan pasca persalinan meningkat akibat penggunaan oksitosin untuk memacu persalinan.
  2. Masalah pada janin :
    1. Kelainan pertumbuhan janin :
      1. Janin besar dengan segala akibatnya
      2. Pertumbuhan Janin terhambat
    2. Oligohidramnion :
      1. Gawat janin
      2. Mekonium aspirasi
      3. Kompresi tali pusat

1.54 BAGAIMANA PENATALAKSANAAN PASIEN DENGAN KEHAMILAN POSMATUR?

  1. Pengelolaan dimulai pada kehamilan 41 minggu
  2. Lakukan konfirmasi usia kehamilan
  3. Evaluasi kesejahteraan janin

HARUS DI INGAT BAHWA PENYEBAB UTAMA KEJADIAN KEHAMILAN POSTMATUR ADALAH PENENTUAN HPHT YANG TIDAK TEPAT

1.55 TOPIK BAHASAN APA YANG PERLU DISAMPAIKAN SELAMA PEMBERIAN PENYULUHAN KESEHATAN

Topik berikut harus dibahas dalam penyuluhan kesehatan :

  1. Gejala dan tanda yang berbahaya selama kehamilan
  2. Kebiasaan yang membahayakan
  3. Makanan sehat yang diperlukan
  4. Manfaat Keluarga Berencana
  5. Manfaat Pemberian ASI
  6. Perawatan bayi yang baik
  7. Awal persalinan dan proses persalinan

1.56 GEJALA ATAU TANDA APA YANG MERUPAKAN PETUNJUK ADANYA KOMPLIKASI SERIUS YANG HARUS DIBICARAKAN DENGAN PASIEN

  1. Gejala dan tanda solusio plasenta :
    1. Perdarahan per vaginam
    2. Nyeri abdomen hebat dan persisten
    3. Berkurangnya gerakan janin
  2. Gejala dan tanda preeklampsia :
    1. Nyeri kepala frontal dan menetap
    2. Gangguan visus
    3. Nyeri ulu hati
    4. Pembengkakan kaki dan tangan
  3. Gejala dan tanda persalinan preterm :
    1. Pecah ketuban
    2. Kontraksi uterus teratur pada kehamilan kurang dari 37 minggu

PROBLEM KASUS

KASUS 1

Pasien usia 36 tahun, gravida 4 para 3 melakukan kunjungan antenatal pertama di klinik antenatal. bahwa dia menderita hipertensi pada 2 kehamilannya yang terakhir. Pengukuran tinggi fundus uteri menunjukkan bahwa usia kehamilan diperkirakan 32 minggu. Pada kunjungan antenatal kedua dari hasil pemeriksaan hapusan servik rutin menunjukkan ditemukan data bahwa terdapat lesi intraepitelial servik derajat rendah.

1. Apa arti penting data-data riwayat obstetri (kehamilan, persalinan dan nifas) ?

Riwayat Hipertensi pada kehamilan sebelumnya menempatkan pasien ini pada resiko tinggi untuk kembali menderita Hipertensi pada kehamilannya sekarang. Pasien ini harus menjalani pemeriksaan tekanan darah dan proteinuria secara teliti pada setiap kunjungan antetanal. Kasus ini menekankan pentingnya data riwayat obstetri dari seorang pasien pada kunjungan antenatal.

2. Sampai sejauh mana ketepatan hasil pengukuran jarak fundus uteri dengan tepi atas simfisis setelah kehamilan minggu ke 32 dalam menentukan usia kehamilan ?

Pengukuran jarak antara fundus uteri sampai tepi atas simfisis adalah metode klinik yang akurat dalam menentukan besar uterus. Bila pertumbuhan uterus yang ditentukan berdasarkan pengukuran simfisis-fundus sesuai dengan gambar pada kartu antenatal maka usia kehamilan pada kunjungan pertama dapat ditentukan.

3. Mengapa pada kasus ini pemeriksaan ultrasonografi dalam menentukan usia kehamilan menjadi tidak terlampau bermanfaat ?

Akurasi penentuan usia kehamilan dengan ultrasonografi hanya sampai usia kehamilan 24 minggu. Setelah itu, rentang kesalahan yang dihasilkan oleh pemeriksaan ultrasonografi setara dengan pemeriksaan klinik.

4. Apa yang harus saudara lakukan dengan hasil hapusan servik ?

Hapusan servik harus diulang setelah kehamilan 9 bulan. Hasil hapusan servik harus dicatat dengan baik pada catatan antenatal dan ditentukan rencana penatalaksanaan berikutnya.

KASUS 2

Pada saat kunjungan antenatal, seorang pasien hamil memiliki hasil pemeriksaan VDRL positif dengan titer 1 : 4. Penderita tidak menunjukkan adanya gejala klinik dan tidak sedang atau pernah memperoleh terapi dalam jangka waktu satu tahun terakhir ini. Dari anamnesa dan pemeriksaan palpasi fundus uteri – simfisis usia kehamilan diperkirakan 26 minggu.

1. Apa artinya hasil pemeriksaan VDRL positif dengan titer 1 : 4 ?

Hasil pemeriksaan VDRL positif menunjukkan bahwa yang bersangkutan menderita syphilis. Akan tetapi dengan titer 1 : 4 (dibawah 1 : 16 ) berarti bahwa diagnosa pasti syphilis harus dipastikan lebih lanjut dengan pemeriksaan darah lainnya.

2. Pemeriksaan darah lanjutan apa yang harus dilakukan untuk memastikan atau menyingkirkan kemungkinan syphilis ?

Bila memungkinkan, lakukan pemeriksaan TPHA atau FTA. Bila hasilnya positif maka dapat dipastikan bahwa pasien menderita syphilis.

Bila pemeriksaan tersebut tidak dapat dikerjakan maka harus diberikan terapi yang sesuai .

3. Mengapa janin mendapatkan resiko mengalami syphilis kongenital ?

Oleh karena Spirochaeta dapat melewati plasenta dan menyebabkan infeksi pada janin.

4. Bagaimana pengobatan yang harus diberikan pada penderita syphilis ?

Benzanthine Penicilline 2,4 juta unit intramuskuler setiap minggu selama 3 minggu berturut-turut.

5. Penyakit apa lagi yang mungkin diderita oleh penderita syphilis ?

Yang bersangkutan kemungkinan besar juga menderita PMS – penyakit menular seksual lain atau bahkan HIV - AIDs

KASUS 3

Primigravida usia 18 tahun tanpa riwayat medis yang bermakna datang di klinik antetanatl pada kehamilan 22 minggu. Pada kunjungan kedua, hasil pemeriksaan menempatkan yang bersangkutan pada kehamilan resiko rendah.

1. Kapan saat terbaik bagi wanita hamil untuk pertama kali memeriksakan kehamilannya ?

Bila memungkinkan maka kunjungan antenatal pertama dilakukan didalam 12 minggu pertama kehamilan. Dengan demikian maka usia kehamilan dapat ditentukan sedini mungkin dan adanya masalah kesehatan dapat diketahui dan diatasi sedini mungkin.

2. Kapan kunjungan antenatal ulangan berikutnya sebaiknya dikerjakan ?

Pada usia kehamilan 28 minggu .

3. Komplikasi kehamilan apakah yang harus dicari pada kehamilan 28 minggu tersebut ?

    • Anemia
    • Gejala dan Tanda dini pre eklampsia
    • Kelainan pertumbuhan janin ( pertumbuhan janin terhambat-PJT atau ukuran uterus lebih besar dari yang diperkirakan akibat kehamilan kembar atau hidramnion )
    • Riwayat perdarahan antepartum

4. Bila hasil semua pemeriksaan baik, kapan yang bersangkutan diharapkan untuk melakukan kunjungan antenatal ulangan ?

Kunjungan ulangan berikutnya dijadwalkan pada minggu ke 34 dan setelah itu setiap 2 minggu sampai kehamilan 40 minggu.

KASUS 4

Pasien usia 24 tahun, gravida 2 para 1 datang ke klinik antenatal dan dilayani oleh seorang bidan. Riwayat obstetri yang dikemukakan menunjukkan bahwa pada kehamilan pertama yang bersangkutan pernah menjalani sectio caesar pada kehamilan aterm akibat partus tak maju.

Yang bersangkutan merasa pasti dengan informasi HPHT yang diberikannya dan berdasarkan perhitungan usia kehamilan saat ini adalah 14 minggu. Pada pemeriksaan palpasi, teraba tinggi fundus uteri berada pertengahan antara pusat dan tepi atas simfisis .

1. Informasi lanjutan tentang apa yang harus diketahui sehubungan dengan operasi SC yang pernah dialami oleh pasien tersebut ?

    • Indikasi pasti mengenai tindakan tersebut
    • Jenis sectio caesar yang dilakukan ( insisi uterus klasik atau low segmen/tranversal pada segmen bawah rahim )

2. Apa kepentingan data tersebut diatas ?

Bila indikasi sectio caesar adalah kasus yang tidak tetap, jenis insisi tranversal pada segmen bawah rahim, dan tidak ada indikasi untuk melakukan operasi sectio caesar ulangan maka dapat dicoba persalinan per vaginam.

3. Pada kategori resiko kehamilan apa pasien ini ditempatkan ?

Pada kehamilan resiko sedang.

4. Bagaimana perencanaan perawatan antenatal bagi pasien ini ?

Kunjungan berikutnya harus dilakukan di rumah sakit rujukan dengan fasilitas sectio caesar. Bila mungkin kunjungan lanjutan dikerjakan dimana tindakan sectio caesar dilakukan sehingga dapat dimintakan data-data yang diperlukan. Kunjungan berikutnya sampai usia kehamilan 36 minggu dapat dilakukan di layanan kesehatan primer dan setelah itu kembali ke rumah sakit untuk ditentukan jenis persalinan yang direncanakan.

5. Mana yang benar diantara dua perkiraan usia kehamilan berikut ini ?

Perkiraan usia kehamilan pada tinggi fundus uteri pada pertengahan jarak pusat dan tepi atas simfisis pubis adalah 16 minggu. Berdasarkan HPHT perkiraan usia kehamilan adalah 14 minggu.

Mengingat bahwa perbedaan tersebut kurang dari 3 minggu, maka perkiraan usia kehamilan yang lebih tepat adalah yang berdasarkan HPHT.


Reviewed : dr.Bambang Widjanarko,SpOG

0 komentar:

Poskan Komentar